Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Tajuk
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Sabtu, 19/07/2008
Mengolok-olok hukum
Artalyta Suryani kembali mencetak berita utama di media massa nasional kemarin, dengan tema cerita yang sama, yakni pembicaraan teleponnya dengan jaksa Urip Tri Gunawan, mengatur skenario pengakuan di persidangan. Berbeda dengan pembicaraan sebelumnya, yang juga disadap dan direkam oleh Komisi Pemberantasan Korupsi, kali ini Artalyta dan Urip saling berhalo-halo dari balik jeruji besi.
Jika pada pembicaraan telepon sebelumnya citra Kejaksaan Agung yang tercoreng karena sejumlah nama jaksa disebut-sebut dalam upaya Artalyta melakukan penyuapan, kali ini Kepolisian yang kebakaran jenggot.
Artalyta dan Urip berada di tahanan yang berbeda. Artalyta di tahanan Mabes Polri Jakarta, sedangkan Urip mendekam di bui Brimob Kelapa Dua Depok. Namun, mereka bisa leluasa berbicara satu sama lainnya lewat telepon genggam.
Tidak terhindarkan kesan memang bahwa polisi tidak becus menjaga tahanan. Penjahat mengatur bisnis mereka dari dalam bui menggunakan telepon genggam bukan hal yang mengejutkan di negeri ini.
Artalyta alias Ayin diketahui sangat dekat dengan pengusaha Syamsul Nursalim, pemilik Bank Dagang Nasional Indonesia dan penerima Bantuan Likuiditas Bank Indonesia. Dana US$660.000 (setara dengan Rp6 miliar) dari Artalyta untuk Urip diperkirakan merupakan suap yang terkait dengan penyelesaian perkara BLBI Syamsul Nursalim.
Meski Artalyta terus-menerus berkelit di pengadilan, jelas bahwa dia aktif mengatur skenario penggunaan dana yang diberikannya kepada Urip. Pada awalnya mereka berdua sepakat mengatakan uang tersebut untuk bisnis permata, lalu berubah untuk membangun bengkel di Cikampek.
Barangkali tidak lama lagi pembicaraan Artalyta dan Urip, yang masing-masing berperan sebagai 'ibu guru' dan 'bapak guru' berhadapan dengan 'para dosen penguji' (hakim), menjadi ringtone favorit telepon genggam kaum muda, sebagaimana terjadi pada pembicaraan 'mesra' sebelumnya antara Artalyta dan seorang jaksa lain.
Pengadilan atas Artalyta dan Urip menarik, tak ubahnya panggung sandiwara. Selain melaporkan tentang materi persidangan, media massa juga menulis tentang fisik dan bahasa tubuh Artalyta mulai dari pakaian, warna dan tata rambutnya, merek tas tangannya, sampai make-up wajahnya yang putih mencolok dengan alis mata melengkung bak bulan sabit.
Kita mungkin tersenyum mendengarkan pembicaraan telepon antara Artalyta dan Urip, tetapi mestinya itu senyum kecut. Hal ini karena tidak sedikit orang seperti Artalyta yang memiliki lobi kuat di kalangan pejabat, anggota parlemen, dan siap memanfaatkan jaringan mereka itu untuk menabrak hukum.
Artalyta adalah contoh pribadi yang pantang mundur dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Bayangkan, sudah di dalam tahanan polisi pun dia bahkan masih berusaha mengatur jalannya persidangan. Dengan perilakunya itu dia sesungguhnya telah mengolok-olok institusi penegak hukum.
Orang-orang seperti Artalyta seolah memiliki seribu mata dan tangan untuk men-service pihak-pihak yang kiranya menguntungkan kepentingan diri dan kelompoknya. Mereka itu bisa pejabat di level yang paling tinggi sampai ke tingkat yang paling rendah. Dengan dana tidak terbatas, mereka memang leluasa bergerak ke mana saja, mempermainkan hukum.
Dalam menjatuhkan ganjaran bagi Artalyta dan Urip, sudah sepatutnya Majelis hakim mempertimbangkan pula sikap kedua orang itu yang mengolok-olok hukum, sebagaimana tergambar dalam pembicaraan-pembicaraan telepon di antara mereka.
bisnis.com