Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Tajuk
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Sabtu, 19/07/2008
Membicarakan perang Irak dan Afghanistan
Ada kebimbangan saat awal kampanye pemilihan presiden AS 2008 mengenai perang Irak dan Afghanistan yang menjadi tantangan kebijakan luar negeri terbesar yang tengah menunggu presiden berikut. Namun ada sedikit diskusi yang berharga dari para kandidat dalam kampanyenya.
Hingga minggu ini, saat Senator Barack Obama, yang dinominasikan oleh Partai Demokrat, menawarkan cetak biru yang bijak kepada masyarakat bahwa Presiden George Bush menciptkan perang yang sembarangan melawan Al Qaeda di Afghanistan, yang bisa saja membuat warga AS aman, dan memulai perang dengan Irak yang justru membuat dunia menjadi tidak aman.
Lawan Obama dari Partai Republik Senator John McCain, tidak sejalan dengan Obama atas Irak. Dia masih saja mengadopsi kebijakan gelap mata Bush yang mempertahankan perang yang tak berkesudahan.
Obama menggenggam masa depan yang lebih baik, dibanding klaim McCain yang memiliki lebih banyak pengalaman luar negeri. Untuk waktu yang lama, invasi Bush dengan petualangannya yang keliru di Irak menyelewengkan sumber daya manusia yang begitu berharga, sumber daya dan perhatian tingkat tinggi dari Afghanistan dan Pakistan. Di mana Obama dengan tepat menyatakan, negara tersebut, bukan Irak, adalah garis depan perang melawan terorisme.
• International Herald Tribune, 17 Juli
bisnis.com
Berita Lain
- Merevitalisasi ekonomi Jepang
- Demokrat membuat hari yang bersejarah
- Ramadan yang bermanfaat
- Korut ingin aktifkan lagi program nuklir
- Tak ada peluru dan damai di Georgia