Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Tajuk
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Senin, 21/07/2008
Badai segera berlalu?
Kekacauan perekonomian dunia saat ini sepertinya segera meninggalkan titik dasar alias bottoming out dan diharapkan cepat kembali mendaki ke arah proses pemulihan. Itu harapannya. Ekspektasi tersebut setidaknya sejalan dengan perubahan proyeksi perekonomian dunia yang dilansir Dana Moneter Internasional (IMF).
Lembaga moneter dunia itu pekan lalu menaikkan proyeksi laju pertumbuhan ekonomi global pada 2008 dari semula 3,7%-yang dibuat pada April tahun ini-menjadi 4,1%. Salah satu pertimbangan utama IMF dalam melansir proyeksi baru itu adalah dampak pengetatan kredit, yang mulai diberlakukan di sejumlah negara pada semester I/2008, ternyata tidak seburuk yang diperhitungkan semula.
Pengetatan kebijakan moneter memang menjadi langkah hampir seragam yang diterapkan sebagian besar negara, menyusul ancaman inflasi yang sebagian besar didorong oleh kenaikan harga minyak mentah dunia, yang mendekati US$150 per barel beberapa waktu lalu.
Namun, tekanan harga minyak mentah dunia pekan lalu mulai menunjukkan gejala mengendur setelah sempat menyentuh level US$136 per barel dibandingkan dengan posisi US$146 per barel pada pekan-pekan sebelumnya.
Perkembangan ini, meskipun masih dibayangi situasi yang tidak menentu, bagaimanapun agak melegakan setelah pasar keuangan terus-menerus tertekan. Selain itu, pengelolaan fiskal pemerintah-tidak hanya di Indonesia tetapi juga di sebagian besar negara yang memiliki keterkaitan anggarannya dengan perkembangan harga minyak mentah dunia-telah mengalami kesulitan yang luar biasa.
Apalagi dampak bola saljunya menggelinding ke seluruh sendi kehidupan masyarakat dunia, termasuk Indonesia, yang harus bertahan dengan tingkat kesulitan menyangga biaya ekonomi dan bisnis yang kian meningkat akibat kenaikan harga energi.
Di tengah situasi tersebut, tentu saja, tidak bijaksana mengandalkan euforia kebijakan. Pengetatan moneter yang fleksibel menjadi saran penting, mengingat keterbatasan dan hambatan fiskal sejalan dengan tekanan harga minyak mentah dunia yang, bagaimanapun masih besar.
Kita menghargai rekomendasi Gubernur Bank Indonesia Boediono dalam pertemuan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia di Lombok pekan lalu, bahwa kebijakan moneter ketat harus diambil dalam perspektif koordinasi global supaya lebih efektif.
Sasarannya, tentu saja, selain efektivitas kebijakan moneter dalam menghantam ancaman inflasi, sekaligus agar dampaknya terhadap konsolidasi perekonomian tidak serta merta negatif.
Sudah menjadi kelaziman setiap terjadi ancaman inflasi yang diperangi dengan kebijakan pengetatan moneter, hasil paling instan dari kebijakan tersebut adalah kelesuan perekonomian.
Dalam konteks itulah koordinasi global menjadi sangat penting untuk menjaga agar kebijakan moneter ketat tidak melahirkan pukulan mematikan, terutama bagi pertumbuhan ekonomi dunia.
Dalam konteks itu pula peran empat negara raksasa yang dikenal dengan sebutan the BRIC (Brasil, Rusia, India, dan China) kian krusial. Seperti dilansir IMF dalam laporan World Economic Outlook-yang sebenarnya tidak lazim dikeluarkan pada medio tahun fiskal-keempat negara itu membukukan pelambatan kinerja ekonomi akibat tersengat dampak krisis hipotek di AS, selain terpeleset lonjakan harga minyak mentah dunia.
Di tengah meningkatnya peran ekonomi dari keempat negara itu, perkembangan ini patut diwaspadai agar tidak makin menjadi hambatan dalam upaya bersama secara global untuk mengusir badai kelesuan ekonomi belakangan ini.
bisnis.com