Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Tajuk


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Senin, 25/08/2008

Belajar dari sukses China

Pesta olahraga sedunia berakhir dengan upacara penutupan yang tidak kalah megah dibandingkan dengan pembukaannya. Untuk pertama kalinya sepanjang sejarah Olimpiade, bangsa Asia mampu memimpin perolehan medali emas terbanyak.

Ya. China tidak hanya sukses menjadi tuan rumah yang capable, tetapi juga mampu mencetak medali emas terbanyak. Hal itu sekaligus menjadikannya sebagai juara umum Olimpiade musim panas 2008.

Prestasi tersebut menunjukkan bahwa China sekarang menjadi raksasa dunia yang sesungguhnya, setelah penguasaan ekonomi, teknologi, dan kini olahraga. Negeri itu pantas menjadi contoh bagaimana membangun bangsa secara serius untuk menjadi maju.

Indonesia, dengan keberhasilannya meraih satu medali emas, satu perak, dan tiga perunggu pada Olimpiade Beijing ini, tentu masih jauh dari cita-cita untuk menjadi bangsa terpandang di forum olahraga dunia.

Tanpa bermaksud mengecilkan perjuangan atlet kita yang telah berupaya keras, hingga titik keringat penghabisan, Indonesia sudah saatnya menempuh upaya lebih kuat untuk meningkatkan prestasi di bidang olahraga.

Model pembinaan-perekrutan dan pelatihan-atlet secara nasional harus diubah total, tidak mengikuti pola yang selama ini ditempuh. Negara lain yang memiliki prestasi tinggi pada bidang olahraga tentu telah menerapkan model pembinaan yang sangat intensif.

Salah satu contoh pembinaan yang ditempuh negara berprestasi maju pada bidang olahraga antara lain melengkapi setiap atlet dengan kesejahteraan lahir dan batin, sehingga yang mereka pikirkan dan kerjakan hanyalah meningkatkan prestasi olahraga yang ditekuninya.

Selain itu, dalam setiap latihan pun, terhadap setiap atlet disediakan tim pelatih dan pendamping. Tim pelatih bertugas memastikan peningkatan prestasi. Sementara itu, tim pendamping-yang biasanya terdiri dari sejumlah dokter, ahli gizi, dan psikiater-memastikan kondisi atlet selalu prima.

Indonesia, dengan ragam etnis yang dimiliki, sesungguhnya memiliki potensi untuk memunculkan atlet berskala dunia. Betapa tidak! Dari segi fisik, misalnya, saudara-saudara kita di Papua tentu tidak akan kalah bertanding dengan atlet dari Afrika, yang terkenal merajai arena atletik.

Hal ini asalkan dilakukan pembinaan yang intens terhadap mereka, tak diragukan lagi prestasi tinggi Indonesia di bidang olahraga bukan impian.

Pemerintah-dalam hal ini Kantor Menteri Negara Pemuda dan Olahraga-dan Komite Olahraga Nasional Indonesia tentu sudah memahami hal ini.

Namun, yang mengherankan, prestasi bangsa di ajang olimpiade nyaris tidak beranjak. Terlalu berat jika beban untuk meraih medali emas Olimpiade itu harus disandang oleh tim tertentu, karena tim lain pada dasarnya memiliki kesempatan sama.

Perbaikan mendasar terhadap strategi pembinaan olahraga untuk meraih prestasi berskala dunia ini harus dilakukan sejak tingkat sekolah dan pekan olahraga RT/RW. Puncaknya tentu saja pada Pekan Olahraga Nasional (PON), yang seharusnya menjadi ajang untuk menjaring atlet berskala dunia.

Melihat keberhasilan China pada Olimpiade kali ini, tidak perlu ragu kiranya kalau Indonesia belajar juga tentang olahraga kepada negeri itu. China sudah membuktikan bahwa mereka bisa.

bisnis.com

Berita Lain

  • Selamatkan dana nasabah
  • Tantangan Obama
  • Alkoholik manula
  • Memanfaatkan momentum
  • Bantuan kemanusiaan
  • Kekosongan catatan e-mail
  • Pelatihan kerja
  • Chrysler & bailout pemerintah
  • Dialog China-Tibet