Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Tajuk


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Senin, 25/08/2008

Kenaikan tarif listrik di Jepang

Mulai Januari tahun depan, masyarakat Jepang harus merogoh kocek lebih dalam untuk membayar tagihan listrik akibat lonjakan beban biaya produksi perusahaan listrik, menyusul kenaikan harga minyak mentah dunia.

Untuk listrik yang dipasok Tokyo Electric Power Co. (TEPCO), misalnya, masyarakat harus menambah pembayaran rata-rata 800 yen per bulan menjadi 7.600 yen, atau naik 12% dari biasanya.

Kondisi ini tentu saja akan memengaruhi anggaran rumah tangga.

Kenaikan tarif listrik ini memang tidak dapat dihindarkan, jika tidak ingin kinerja perusahaan listrik, tidak hanya TEPCO tapi juga Kansai Electric Power Co dan Chubu Electric Power Co, jatuh terjerembab.

Bagi konsumen, kenaikan tarif listrik memaksa mereka untuk mengurangi konsumsi lainnya, terutama kebutuhan sandang. Akibatnya, pasar industri tekstil tentu akan tergerus. Kondisi ini menjadi lingkaran setan yang sulit untuk diatasi.

Pemerintah sendiri memprediksi akan kehilangan potensi penerimaan negara dari perdagangan internasional sebesar 28 triliun yen tiap tahun akibat kenaikan harga minyak mentah dan komoditas lainnya.

Tampaknya perlu ada langkah taktis dari pemerintah untuk mengatasi masalah ini agar perekonomian dapat pulih kembali, tanpa mengorbankan masyarakat dan produsen listrik.

The Asahi Shimbun, 23 Agustus

bisnis.com

Berita Lain

  • Selamatkan dana nasabah
  • Tantangan Obama
  • Alkoholik manula
  • Memanfaatkan momentum
  • Bantuan kemanusiaan
  • Kekosongan catatan e-mail
  • Pelatihan kerja
  • Chrysler & bailout pemerintah
  • Dialog China-Tibet