Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Tajuk
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Jumat, 29/08/2008
Tak ada peluru dan damai di Georgia
Inilah buah dari tiga pekan invasi Rusia ke Georgia yang secara radikal mengubah hubungan negara itu dengan Barat: Pasukan Rusia masih menguasai wilayah-wilayah kunci, termasuk pelabuhan Poti; Moskwa telah mengakui kemerdekaan dua wilayah yang dituntut Georgia; Presiden Georgia Mikheil Saakashvili masih berkuasa meski tentara dan negaranya dibombardir Rusia.
Apabila fakta-fakta itu belum cukup, kita bisa menambahkan lagi. Presiden Bush memutuskan untuk mengirim Wapres Dick Cheney, yang dikenal sebagai diplomat ulung, ke wilayah konflik tersebut.
Berkat kekayaan minyak, para pemimpin Rusia benar-benar mempertontonkan politik bumi hangus. Dalam hal ini Barat telah gagal untuk memengaruhi Putin untuk tidak menempuh jalan kekerasan militer. Namun, Rusia juga kehilangan banyak hal. Keputusan Moskwa untuk mengakui Ossetia Selatan dan Abkhazia hanya akan memperparah pertempuran dan memancing ketidakstabilan di kawasan.
Apa yang terjadi di Georgia bisa memicu pemberantakan serupa di sekitar dan di dalam negeri Rusia sendiri. Sebut saja pemisahan Transdniester dari Moldova, Nagorno-Karabakh dari Azerbaijan dan provinsi kaya minyak Tatarstan dari Russia. Apabila Moskwa melupakan penindasannya terhadap Chechen, kami tidak tahu lagi apa yang akan terjadi.
International Herald Tribune, 27 Agustus
bisnis.com