Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Tajuk
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Rabu, 03/09/2008
Menjaga inflasi
Pemerintah tampaknya akan kesulitan menjaga laju inflasi sesuai dengan target APBN-P 2008 sebesar 11,2%. Apalagi bila berpatokan pada target inflasi sebelum direvisi, yaitu 6,5%. Pada Agustus saja, inflasi bulanan tercatat 0,51% dan inflasi tahun kalender mencapai 9,4%.
Dalam kurun waktu empat bulan ke depan, kita akan dihadapkan pada berbagai faktor pengerek inflasi yang lebih nyata. Perayaan hari besar keagamaan, seperti Ramadan selama September, Idulfitri pada awal Oktober hingga Iduladha, Natal, dan liburan akhir tahun pada Desember, akan menjadi faktor-faktor dominan yang memicu laju inflasi.
Selain itu, 'simpanan' faktor pendongkrak inflasi pun masih tersisa. Kenaikan harga gas elpiji yang hampir dipastikan akan terjadi setiap bulan, serta kenaikan harga bahan kebutuhan pokok menjelang bulan puasa, pasti akan berdampak terhadap inflasi pada September.
Berdasarkan pengalaman sebelumnya, inflasi pada September dan Oktober 2007 lebih tinggi dibandingkan dengan Agustus. Oleh sebab itu, sulit rasanya menjaga inflasi sesuai dengan target yang tertuang dalam APBN-P 2008.
Kalangan ekonom pun memprediksi inflasi pada bulan-bulan mendatang akan lebih tinggi dibandingkan dengan Agustus, dan inflasi sepanjang 2008 diperkirakan lebih tinggi dari target pemerintah.
Melihat kondisi tersebut, otoritas moneter biasanya serta-merta menaikkan suku bunga (BI Rate). Tujuannya, mengurangi jumlah uang beredar dan menekan konsumsi masyarakat agar dapat mengerem laju inflasi.
Namun, langkah ini sebenarnya kurang tepat. Hal ini mengingat kondisi suku bunga saat ini cukup tinggi, dan menaikkan lagi suku bunga justru akan memperlemah kegiatan dan ekspansi dunia usaha.
Kenaikan suku bunga akan membuat kalangan dunia usaha mengerem ekspansi bisnis mereka. Apabila hal ini terjadi, dikhawatirkan akan memperlambat pertumbuhan ekonomi. Padahal, pertumbuhan ekonomi sangat dibutuhkan untuk menyerap tenaga kerja yang pada gilirannya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Apabila kita menyimak penjelasan Kepala BPS Rusman Heriawan, persoalan menjaga stabilitas harga barang kebutuhan pokok, melalui ketersediaan pasokan, merupakan hal yang krusial diperlukan untuk mengerem laju inflasi. Menjamin pasokan barang kebutuhan masyarakat harus menjadi prioritas pemerintah guna menyeimbangkan pasokan dan permintaannya.
Pemerintah hendaknya bisa menginventarisasi berbagai masalah yang ada secara tepat. Pemenuhan kebutuhan bahan makanan selama bulan puasa dan Lebaran, harus benar-benar terjamin. Masalah distribusi dan pengiriman barang kebutuhan pokok pun harus benar-benar diantisipasi dengan cermat.
Pasokan gas elpiji yang mulai langka, akibat kenaikan harga sumber energi itu belakangan ini, berpotensi menjadi pemicu inflasi di tengah tingginya permintaan masyarakat karena naiknya permintaan selama bulan puasa dan Lebaran.
Kebijakan Pertamina menaikkan harga gas elpiji saat ini, untuk mengurangi defisitnya, dinilai kurang tepat saat meningkatnya kebutuhan masyarakat. Pertamina juga harus bisa menjamin jangan sampai ada pihak-pihak yang mengambil keuntungan besar dari kondisi tersebut.
Oleh sebab itu, masalah krusial yang dihadapi pemerintah untuk mengerem laju inflasi sebenarnya bukan terletak pada masalah moneter, melainkan ada pada persoalan memenuhi kebutuhan pokok dan mendistribusikannya secara merata.
Percuma saja apabila bank sentral menaikkan BI Rate untuk mengurangi jumlah uang beredar, tetapi masalah pasokan bahan makanan dan distribusinya tidak diatasi. Langkah yang tidak sinkron justru akan memperberat beban masyarakat, inflasi tetap tinggi, dan harga dana menjadi lebih mahal, sehingga dunia usaha sulit bergerak.
bisnis.com