Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Tajuk
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Jumat, 05/09/2008
Jalan damai di Thailand
Dalam waktu hampir bersamaan terjadi gejolak politik yang signifikan di Asia. Yang satu di Thailand, sedangkan yang lainnya di Jepang.
Pengumuman pengunduran diri Perdana Menteri Yasuo Fukuda yang mendadak pekan ini membuat kalangan bisnis Jepang mengkhawatirkan dampaknya pada implementasi kebijakan dan tekanan terhadap pasar uang. Belum jelas siapa pengganti Fukuda, yang disebut-sebut sebagai salah satu pemimpin yang paling tidak populer dalam sejarah Jepang modern itu. Di tengah kondisi perekonomian yang belum cerah, pergantian kepemimpinan senantiasa menimbulkan keresahan.
Hal serupa sedang terjadi di Thailand. Ribuan orang berdemonstrasi di kantor perdana menteri sejak akhir bulan lalu, dengan satu tujuan, yakni mendepak Perdana Menteri Samak Sundaravej, yang belum satu tahun berkuasa, dari kursinya.
Eskalasi politik yang terus meningkat membuat Samak mengeluarkan dekret darurat pekan ini. Namun, belum ada tindakan berarti diambil oleh Angkatan Bersenjata terhadap pengunjuk rasa-padahal mereka berwenang melakukannya berdasarkan dekret-sehingga menimbulkan kecurigaan bahwa korps baju hijau sesungguhnya sehati dengan para pengunjuk rasa. Jika benar demikian, saat Samak berkuasa barangkali tinggal menghitung hari saja.
Kudeta militer telah menjadi bagian tak terpisahkan dari dinamika politik di Negeri Gajah Putih itu. Sejarahnya jauh ke belakang, pada 1932, ketika Angkatan Bersenjata mengubah Thailand menjadi monarki konstitusional, menyusul kudeta militer yang membuat raja bersedia membagi kekuasaan dengan perdana menteri.
Setelah itu, Angkatan Bersenjata seperti ketagihan menggulingkan pemerintah yang sah, atau mungkin institusi itu memandang ia sebagai juru selamat setiap kali pecah krisis politik. Selama sekitar 70 tahun terakhir ini sudah 20 kali kudeta dan percobaan kudeta dilakukan oleh militer Thailand.
Perdana Menteri Samak-seorang politisi senior dan mantan gubernur Bangkok-merupakan pemimpin yang dipilih secara demokratis setelah perdana menteri sebelumnya, Thaksin Shinawatra, terjungkal dalam kudeta militer pada September 2006. Thaksin dituduh melakukan korupsi dan menyalahgunakan kekuasaan.
Oposisi menuduh Samak, yang dilantik pada Januari 2008, kaki tangan Thaksin. Dia sendiri tidak pernah membantah perihal kedekatannya dengan mantan perdana menteri yang dikenal bergaya hidup jet set itu, termasuk membeli klub sepakbola terkemuka di Inggris. Samak bahkan membentuk partai politik baru dan merekrut orang-orang Thaksin sebagai anggotanya.
Secara terus terang, Samak menyatakan keraguannya bahwa Thaksin korup. Sebaliknya, dia memuji keputusannya menaikkan porsi saham asing menjadi 49% dari hanya 25% dalam investasi sektor telekomunikasi, dengan alasan hal itu membuat Thailand menjadi menarik bagi investor asing. Padahal, para penentang Thaksin menyatakan dengan kebijakan tersebut, mantan orang kuat Thailand itu mengambil keuntungan finansial yang besar lewat penjualan sahamnya.
Tak ayal, Samak dipandang tidak lebih dari boneka Thaksin. Bisa saja oposisi merasa hopeless dengan kepemimpinan semacam itu.
Perubahan kepemimpinan di Jepang dan juga di Thailand, jika Perdana Menteri Samak Sundaravej jatuh, layak kita cermati. Ini karena akan berpengaruh terhadap stabilitas politik dan ekonomi Asia sebagai suatu kawasan.
Terhadap Thailand-mengingat Samak bersikeras tidak akan mundur-kita berharap konfrontasi politik di negeri itu tidak berkembang menjadi tragedi berdarah, karena sesungguhnya perubahan tidak perlu dicapai lewat kekerasan. Ada banyak jalan damai menuju Roma.
bisnis.com