Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Tajuk


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Senin, 08/09/2008

'Menolong' pasar

Pasar keuangan jumpalitan. Pekan lalu, hal itu yang terjadi. Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia bahkan sempat menyentuh level 1.999,53 pada perdagangan sesi pertama Jumat pekan lalu, sekali pun akhirnya ditutup pada level 2.022,56.

Artinya, untuk pertama kalinya sepanjang tahun ini IHSG sempat bermanuver kembali ke level di bawah 2.000. Secara akumulatif, IHSG sudah terkoreksi sebanyak 26,34% dari rekor tertinggi tahun ini, yakni 2.830,26, yang berarti telah terbanting 723,26 poin.

Nilai tukar rupiah juga tertekan ke level Rp9.364 per dolar AS, melemah 1,6% dalam sehari perdagangan. Ini adalah posisi terburuk sejak 27 Mei 2008, apalagi jika dibandingkan dengan posisi terbaik rupiah pada level Rp9.060 per dolar AS yang dicapai pada 7 Maret.

Selain Indonesia, kinerja bursa Asia juga amburadul, dengan pasar saham China mengalami pukulan paling telak. Sepanjang tahun ini, indeks Shanghai terperosok 58%, disusul oleh Sensex dan indeks Hang Seng yang masing-masing terjun 28%.

IHSG di tempat berikutnya dengan penurunan sebesar 26%, disusul oleh indeks Kospi (Korea), KLSE (Malaysia), dan Strait Times (Singapura) yang masing-masing turun 25%. Penurunan indeks Nikkei di Jepang relatif tidak terlalu dalam dibandingkan dengan pasar saham Asia lainnya, hanya 20%.

Kita bisa sedikit lega bahwa kejatuhan pasar itu lebih banyak dipicu oleh faktor eksternal, terutama situasi perekonomian Amerika Serikat. Keyakinan konsumen yang terus melemah di AS memang telah mendorong indeks Dow Jones tumbang pada pekan lalu.

Namun, otoritas bursa Indonesia tidak menyerah pada situasi eksternal. Dengan demikian, seyogianya otoritas tidak semata-mata mengandalkan satu opsi kebijakan yang dapat berakibat linear terhadap perkembangan pasar.

Sebut saja dalam pengendalian inflasi, misalnya, banyak kritik yang mengatakan Bank Indonesia semestinya tidak serta-merta mengandalkan kebijakan moneter yang ketat sebagai senjata pamungkas, termasuk menaikkan suku bunga benchmark (BI Rate).

Di satu sisi, kebijakan moneter ketat tidak terbukti efektif dalam meredam inflasi dan menarik masuknya investor asing, tetapi dampak langsung yang ditimbulkannya sangat jelas, yaitu efek redamnya terhadap investasi portofolio di lantai  bursa.

Oleh karena itu, bursa Indonesia di urutan keempat di Asia yang jatuh paling dalam setelah kenaikan BI Rate menjadi 9,25% pekan lalu.

Kebijakan moneter, bagaimana pun, perlu lebih sensitif terhadap dampaknya bagi pasar. Di luar itu, masih perlu upaya lain, termasuk program sosialisasi dan edukasi terus-menerus untuk meyakinkan investor bahwa investasi di pasar modal Indonesia aman. Terlebih dengan pemahaman bahwa investasi semacam ini seyogianya berorientasi jangka panjang, bukan sekadar memburu capital gain harian.

Kita beruntung investor lokal saat ini sudah jauh lebih terdidik dan paham dengan perkembangan pasar, sehingga mereka tidak mudah panik. Bisa dibayangkan seandainya perilaku investor lokal seperti tiga atau lima tahun lalu, kejatuhan pasar modal bisa jauh lebih dalam daripada yang terjadi saat ini, yang disertai oleh penarikan produk pasar modal lainnya, seperti reksa dana dan obligasi.

Ini yang patut mendapatkan apresiasi tinggi atas upaya penyelenggara bursa yang secara terus-menerus melakukan program edukasi pasar modal kepada publik.

Upaya semacam ini, paling tidak, harus terus dijaga konsistensi dan penyebarannya, sehingga makin banyak penduduk Indonesia yang 'melek' terhadap pasar modal, untuk memberi manfaat yang lebih besar bagi pembangunan ekonomi nasional.

bisnis.com

Berita Lain

  • Selamatkan dana nasabah
  • Tantangan Obama
  • Alkoholik manula
  • Memanfaatkan momentum
  • Bantuan kemanusiaan
  • Kekosongan catatan e-mail
  • Pelatihan kerja
  • Chrysler & bailout pemerintah
  • Dialog China-Tibet