Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Tajuk
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Jumat, 03/10/2008
Menunggu bailout
Drama krisis finansial di Amerika Serikat belum berakhir. Solusi melalui program bailout senilai US$700 miliar masih menghadapi ketidakpastian hingga hari ini.
Solusi yang diajukan pemerintahan Presiden George W. Bush ini adalah langkah yang ditunggu dunia untuk menyelamatkan krisis finansial yang terjadi di negara adidaya itu, terutama setelah kejatuhan sejumlah institusi keuangan.
Kejatuhan yang menimpa lembaga keuangan di AS-sebagai dampak dari krisis kredit subprime mortgage-telah meruntuhkan kejayaan Wall Street sebagai pusat keuangan global. Lehman Brothers Holdings Inc. bangkrut, Merrill Lynch & Co dilego ke Bank of America Corp. Goldman Sachs Group Inc dan Morgan Stanley menilai tidak ada masa depan pada bisnis bank investasi dan menggantikan model bisnis yang dinilai rusak.
Perubahan status itu memungkinkan Goldman Sachs dan Morgan Stanley bertindak sebagai bank komersial-yang berhak menarik pinjaman dari nasabah-yang diharapkan dapat menjadi penyangga sumber daya keuangan kedua perusahaan tersebut. Terakhir, pemerintah AS menutup Washington Mutual (WaMu) dan menjual simpanannya kepada JP Morgan Chase and Co.
Semua itu menegaskan bahwa bantuan berupa dana lebih dari US$700 miliar tersebut tidak bisa ditunggu lebih lama lagi. Namun, realisasi usulan itu ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Hal ini terbukti hingga hari ini para politisi di Negeri Paman Sam itu belum satu suara. Padahal, pasar modal dan pasar keuangan global menunggu kepastian keputusan penyelamatan sistem keuangan di AS dalam satu pekan ini.
Harian ini dengan saksama memantau perkembangan upaya penyelamatan itu, langkah demi langkah. Apa yang terjadi pada awal pekan ini tentu sangat mencemaskan. Program yang diajukan pemerintah AS melalui RUU bailout senilai US$700 miliar ditolak oleh DPR (House of Representative). Dampaknya, indeks Dow Jones pada mengalami koreksi paling besar dalam sehari, yaitu 778 poin.
Beruntung kemudian proposal dalam bentuk Rancangan Undang-Undang setebal ratusan halaman itu diperbaiki. Dalam rencana bailout yang diamendemen itu, termasuk rencana menaikkan batas penjaminan untuk simpanan bank dari US$100.000 menjadi US$250.000. Langkah ini dimaksudkan untuk lebih menjamin para penabung bahwa uang mereka akan aman, sehingga tidak terjadi penarikan dana besar-besaran. Senat juga menambahkan keringanan pajak senilai US$110 miliar untuk kalangan bisnis dan kelas menengah.
Namun, ada beberapa hal dari rencana bailout yang tetap dipertahankan di antaranya dukungan yang diberikan kepada Menkeu Henry Paulson untuk membeli aset-aset bermasalah dan juga membatasi bayaran besar-besaran bagi para eksekutif.
Mereka pun mendukung keputusan Securities and Exchange Commission pada Selasa untuk meringankan syarat bagi perusahaan untuk mendevaluasi aset di pembukuan mereka, sehingga menggambarkan harga yang dapat mereka peroleh di pasar.
Setelah diperbaiki, Senat AS akhirnya menyetujui rencana paket bailout senilai US$700 miliar untuk menangani krisis finansial yang dikhawatirkan bisa menjungkalkan AS ke jurang resesi. Persetujuan diberikan setelah melalui voting 74-25. Selanjutnya akan dimintakan persetujuan ke DPR pada hari ini.
Senat memberikan harapan bahwa rencana bailout yang sudah direvisi ini akan berada di meja Presiden George W. Bush untuk persetujuan akhir pada akhir pekan ini. Persetujuan itu diharapkan bisa meredakan kepanikan investor global. Mudah-mudahan saat penyelamatan itu benar-benar akan tiba.
bisnis.com