Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Tajuk


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Jumat, 03/10/2008

Menyelamatkan Wall Street

September merupakan bulan yang paling bergejolak dalam sejarah perbankan dunia. Kondisi ini tidak akan membaik dalam waktu singkat. Pada Senin, Dewan Perwakilan menolak rencana penyelamatan sektor finansial senilai US$700 miliar.

Pasar saham di seluruh dunia tumbang. Krisis meluas seiring dengan nasionalisasi sejumlah bank di Eropa.

Penolakan itu menyusul rencana The Fed, Bank of Japan, dan sejumlah bank sentral utama Eropa yang akan menyediakan dana tambahan untuk memulihkan krisis kredit global yang melumpuhkan pasar antar bank.

Tak ada keraguan bahwa ekonomi global menuju gerbang depresi. Pemerintah AS dan Kongres harus memahami tanggung jawab mereka. Ini sangat penting agar mereka datang dengan undang-undang yang sudah direvisi dan disetujui sebelum akhir pekan ini. Penyelamatan senilai US$700 miliar merupakan pekerjaan raksana.

Saat pemungutan suara pada Senin, rencana itu ditolak oleh 40% Demokrat dan hampir 70% Republik. Hal yang sama terjadi saat Jepang masuk dalam krisis keuangan satu dekade lalu.

Dengan hari pemilihan tinggal bulan depan, ini merupakan pertarungan politik di AS. Kami mendesak Bush dan pemimpin Kongres untuk melakukan segala upaya untuk melakukan pendekatan pada kolega mereka dan publik.

The Asahi Shimbun, 2 Oktober 2008

bisnis.com

Berita Lain

  • Selamatkan dana nasabah
  • Tantangan Obama
  • Alkoholik manula
  • Memanfaatkan momentum
  • Bantuan kemanusiaan
  • Kekosongan catatan e-mail
  • Pelatihan kerja
  • Chrysler & bailout pemerintah
  • Dialog China-Tibet