Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Tajuk


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Sabtu, 04/10/2008

Dilema intelijen Pakistan

Sudah sekian lama militer Pakistan dan institusi intelijen negara itu bergumul dengan permainan yang penuh mara bahaya yang sinis di dua kaki: menerima dana miliaran dolar dari AS dan pada saat yang sama membantu kelompok Taliban serta para ekstremis bersenjata lainnya. Mereka dibina untuk merusak kepentingan AS, Afghanistan dan bahkan demokrasi di Pakistan sendiri.

Panglima militer Pakistan Ashfaq Parvez Kayani kini mendapat tekanan bertubi-tubi dari Washington dan Karachi untuk membersihkan 'halaman rumahnya'. Harian ini berharap keputusan Kayani dalam menunjuk pimpinan intelijen yang baru pada pekan ini mengandung makna dihentikannya praktik spionase penuh mara bahaya tersebut.

Kayani memegang tampuk spionase November lalu setelah Pervez Musharraf melepaskan jabatan di kemiliteran agar bisa tetap berkuasa sebagai presiden. Ketika para pemimpin sipil Pakistan memutuskan untuk menyingkirkan Musharraf, Kayani tampaknya bisa menjaga jarak.

Orang nomor satu di badan intelijen tersebut bertekad melakukan reformasi. Sebelumnya, lembaga itu terlibat 'perang kotor' di Afghanistan dan perbatasan India-Pakistan, terutama wilayah Kashmir.

Dia mengadang sebuah upaya pimpinan sipil dua bulan lalu untuk mengawasi badan intelijen yang kini dikontrol militer.

bisnis.com

Berita Lain

  • Selamatkan dana nasabah
  • Tantangan Obama
  • Alkoholik manula
  • Memanfaatkan momentum
  • Bantuan kemanusiaan
  • Kekosongan catatan e-mail
  • Pelatihan kerja
  • Chrysler & bailout pemerintah
  • Dialog China-Tibet