Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Tajuk
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Selasa, 07/10/2008
Krisis global & ekonomi RI
Seperti sudah diprediksi paket bailout senilai US$700 miliar ternyata tidak cukup manjur untuk menahan kemerosotan perekonomian Amerika Serikat. Kemerosotan ekonomi itu-ditandai oleh kebangkrutan sejumlah lembaga keuangan di AS-tentu berimbas secara global.
Perekonomian Eropa akan mengalami dampak yastitusi keuangan negara-negara di kawasan itu memiliki eksposur yang besar. Demikian pula dengan perekonomian Jepang dan China.
Sebaliknya, imbas terhadap perekonomian Asia akan lebih minim karena kredit macet yang terjadi tidak sebesar di AS dan Eropa. Imbas yang dialami perekonomian negara-negara Asia, termasuk Indonesia, terjadi seiring dengan pengalihan likuiditas para investor AS ke negaranya.
Krisis global itu memang baru dirasakan sekitar enam bulan hingga setahun ke depan, tetapi upaya menghalaunya perlu dilakukan sejak sekarang. Apalagi krisis ini berdampak terhadap pengeringan likuiditas dan perlambatan ekonomi global-dua kondisi yang sangat memengaruhi perekonomian Indonesia.
Ini karena mengeringnya likuiditas global akan memengaruhi pembiayaan defisit APBN yang berasal dari pasar. Tahun ini, Pemerintah Indonesia memang tidak perlu menerbitkan surat utang baru untuk menutup defisit anggaran sebesar Rp60,5 triliun, tetapi bagaimana dengan tahun depan?
Bukankah tahun depan defisit anggaran ditargetkan 1,5% dari PDB? Dengan kondisi likuiditas yang mengering, pemerintah perlu menjajaki pinjaman dari lembaga-lembaga multilateral atau menggenjot sumber penerimaan dalam negeri. Namun, dapatkah lembaga-lembaga tersebut menaikkan jumlah pinjaman mereka?
Oleh karena itu, untuk mengatasi dampak krisis tersebut pemerintah bertekad memantau defisit APBN, dan memonitor penggunaan anggaran kementerian dan lembaga. Langkah ini tepat demi tetap mengontrol defisit anggaran, sehingga tidak menambah beban APBN.
Pemerintah juga berkomitmen mendorong ekspor dengan memberikan insentif, mengendalikan impor, dan meningkatkan pengamanan pasar domestik. Komitmen ini penting mengingat salah satu dampak dari krisis tersebut adalah perlambatan ekonomi global.
Akibat lanjutannya adalah ekspor nonmigas kita akan terpukul. Ini karena ekspor nonmigas Indonesia lebih banyak ke Asia Timur dan Eropa-yang juga terkena dampak krisis tersebut-dibandingkan dengan ke AS, yang hanya sekitar 11,6%.
Untuk mencegah penurunan ekspor tersebut, diversifikasi pasar perlu segera didorong. Caranya, menurut harian ini, pemerintah perlu memberikan insentif ekspor, memperlancar arus barang, dan mengurangi praktik ekonomi biaya tinggi.
Selain melakukan diversifikasi pasar kita juga harus memanfaatkan pasar dalam negeri. Potensi pasar domestik sangat besar mengingat jumlah penduduk negeri ini mencapai 225 juta jiwa.
Oleh karena itu, pasar domestik harus segera diamankan dari membanjirnya produk impor, baik yang legal maupun ilegal. Bersamaan dengan itu, diperlukan pula langkah pengurangan impor, terutama dari negara-negara yang terkena dampak krisis global tersebut.
Jangan sampai produk impor yang tidak terserap di pasar AS, Eropa, dan negara-negara yang terkena dampak krisis global justru berbelok masuk ke Asia Timur, termasuk Indonesia. Maka, pemerintah perlu memperketat kebijakan masuknya produk jadi yang justru dapat mematikan industri dalam negeri.
Sebaliknya, pemerintah harus melonggarkan impor bahan baku agar sektor riil dapat bergerak. Bahan baku pun harus bisa diperoleh dengan mudah dan harga yang terjangkau.
bisnis.com