Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Tajuk


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Selasa, 07/10/2008

Bailout disetujui tetapi...

Setelah Senat AS menyetujui dana talangan US$700 miliar, pemimpin mayoritas Harry Reid berupaya 'merayu' para koleganya untuk 'menjual' kejatuhan ekonomi sebelum mereka reses.

Reid mendesak teman-temannya agar memperluas cakupan tunjangan bagi para pengangguran hingga mencapai sedikitnya 800.000 orang sasaran di AS.

Untuk menghadapi perlawanan dari pihak Republik, upaya politisi tersebut gagal. Keuntungan yang bisa dinikmati penganggur akan berakhir pekan ini.

Bila berjalan sesuai dengan rencana, dana talangan akan membantu operasional lembaga keuangan dan diharapkan  mampu menyelamatkan mereka. Namun, kita sama sekali tidak bisa untuk menyelamatkan semua orang AS dari dampak krisis keuangan. Mereka pasti ada yang menjadi korban PHK dan kepemilikan rumahnya dicabut.

Departemen Tenaga Kerja melaporkan pekan lalu bahwa 159.000 pekerjaan hilang selama September. Itu merupakan angka terbesar yang pernah terjadi dalam satu bulan selama lima tahun terakhir. Angka itu menggambarkan pula kontraksi lapangan kerja dalam sembilan bulan. Bila ditotal, pekerjaan yang melayang  mencapai 760.000.

Dari 9,5 juta warga AS yang akan kehilangan pekerjaan, dua juta orang di antaranya sudah menganggur selama lebih enam bulan.

International Herald Tribune, 5 Oktober

bisnis.com

Berita Lain

  • Selamatkan dana nasabah
  • Tantangan Obama
  • Alkoholik manula
  • Memanfaatkan momentum
  • Bantuan kemanusiaan
  • Kekosongan catatan e-mail
  • Pelatihan kerja
  • Chrysler & bailout pemerintah
  • Dialog China-Tibet