Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Tajuk
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Kamis, 09/10/2008
Bursa belum kiamat
Kemarin otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) menutup perdagangan saham pada sesi I mulai pukul 11.08 WIB. Keputusan suspensi sementara itu dilakukan setelah menyaksikan penurunan indeks harga saham gabungan (IHSG) yang semakin susah dikendalikan.
Ketika bursa ditutup, IHSG pada sesi pagi kemarin merosot tajam hingga 168,052 poin atau 10,38% ke posisi 1.451,669. Level indeks ini merupakan yang terendah sejak September 2006.
Secara akumulasi dalam tiga hari pada pekan ini, indeks turun di atas 20%. Ketua Bapepam Fuad A. Rahmany mengatakan situasi pemodal di pasar sudah sangat irasional. Kepanikan itu berlaku di hampir semua bursa di dunia.
Charles P. Kindleberger yang meneliti sejarah krisis finansial menempatkan kepanikan (panic) sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari keserakahan dan krisis.
Investor yang mudah panik biasanya melakukan investasi dalam kerakusan. Pemodal kategori ini adalah yang paling mudah dihinggapi ketakutan. Tambahan lagi mereka melakukan investasi umumnya tanpa dibekali pengetahuan yang memadai.
Secara umum investor global hingga saat ini belum berhasil diyakinkan bahwa kondisi finansial akan membaik setelah Pemerintah Amerika Serikat menyetujui pengucuran dana senilai US$700 miliar untuk menyelamatkan sejumlah institusi keuangan di negara itu.
Krisis keuangan di negara adidaya itu menyulut kekeringan likuiditas dan perlambatan ekonomi secara global. Menghadapi krisis demikian, setiap negara, termasuk Indonesia, diminta mengambil langkah-langkah strategis untuk menyelamatkan perekonomian masing-masing.
Misalnya, apa yang dilakukan Bank Indonesia dua hari yang lalu dengan menaikkan BI Rate 25 basis poin menjadi 9,50% merupakan bagian dari langkah tersebut. Terlepas dari reaksi yang bermacam-macam dari pelaku pasar, langkah otoritas moneter itu dimaksudkan untuk mengendalikan inflasi dan menjaga stabilitas rupiah.
Di lain pihak, kebijakan itu tentu saja justru sangat mencemaskan di tengah ketatnya likuiditas saat ini. Kenaikan BI Rate itu akan memaksa bank kembali meningkatkan bunga kredit yang pada gilirannya bakal menyulitkan dunia usaha mengakses pembiayaan.
Harian ini sangat berharap agar keputusan BI-yang langsung mendapat respons negatif dari pasar-bisa membawa dampak yang positif dalam jangka panjang. Gubernur BI Boediono dan kawan-kawan tentu saja sudah memikirkan dampak kebijakan tersebut secara matang.
Setelah otoritas moneter, kemarin tiba giliran manajemen bursa efek mengambil langkah yang sangat berani, yaitu menghentikan perdagangan saham.
Ini merupakan langkah yang pertama kali diambil dalam sejarah bursa Indonesia sehubungan dengan koreksi indeks yang tajam. Pada 2000, perdagangan di bursa pun pernah dihentikan, bukan karena kondisi pasar, melainkan karena hantaman bom di gedung Bursa Efek Jakarta.
Setelah mengambil keputusan itu, kemarin otoritas bursa langsung menyelenggarakan pertemuan dengan anggota bursa dan pelaku pasar untuk membahas dan meminta masukan mengenai kemungkinan dilakukan suspensi lanjutan pada perdagangan hari ini.
Apa pun keputusan yang diambil, kita berharap suspensi itu bisa menghentikan koreksi yang makin tajam. Apalagi langkah serupa juga dilakukan oleh sejumlah bursa di negara lain, seperti Rusia, Rumania, dan Ukraina.
Selain melakukan suspensi, otoritas bursa diharapkan lebih tegas menegakkan aturan di pasar modal, seperti short selling, margin trading yang selama ini sering menjadi pemicu kekisruhan di pasar.
Akhirnya, sekali lagi, kepada pelaku pasar diingatkan bahwa bursa memang belum kiamat, tidak perlu ada panik dan perasaan takut yang berlebihan.
bisnis.com