Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Tajuk
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Kamis, 09/10/2008
Masalah impor beras Jepang
Munculnya kasus peredaran beras yang tidak memenuhi standar mutu (antara lain berbau apek) kini tengah menjadi perbincangan serius di kalangan anggota DPR Jepang.
Kasus ini menunjukkan betapa struktur distribusi beras yang ditetapkan pemerintah ternyata sangat tidak profesional. Hal ini diperparah dengan kebijakan di sektor perberasan Jepang yang tidak kondusif. Salah satunya adalah masalah kebijakan impor komoditas pertanian tersebut.
Guna melindungi industri beras nasional, Jepang menerapkan tarif yang sangat tinggi untuk beras impor, mencapai 800%. Namun, karena bertentangan dengan semangat perdagangan bebas, negara itu akhirnya mengubah kebijakannya, dan bersedia mengimpor beras, tetapi dibatasi hanya 9% dari total produksi domestik, atau sebanyak 770.000 ton.
Sejak kebijakan ini digulirkan pada 1995, total volume impor beras Jepang telah mencapai 9 juta ton. Pemerintah menjamin impor beras tidak akan mengancam industri domestik, juga tidak akan merusak harga dan mengganggu produksi dalam negeri.
Akibat kebijakan ini, Jepang mengalami surplus stok beras sebanyak 1,29 juta ton. Surplus ini mengakibatkan lonjakan biaya penyimpanan yang mencapai 10 miliar yen per tahun. Akhirnya, Jepang mengurangi stok/persediaan guna memangkas biaya penyimpanan tadi.
The Asahi Shimbun, 8 Oktober
bisnis.com