Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Tajuk
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Sabtu, 11/10/2008
Peluang kekuatan baru
Rontoknya industri finansial Amerika Serikat mendorong diskursus tentang masa depan kapitalisme. Banyak yang memandang kehancuran Wall Street sebagai lambang runtuhnya kapitalisme yang selama ini menjadi brand AS.
Kapitalisme murni membatasi peran negara menjadi sangat kecil, sementara dunia usaha dibiarkan bebas bergerak kalau perlu tanpa regulasi asalkan mampu menghasilkan keuntungan sebesar-besarnya. Ini diyakini akan berdampak positif terhadap perekonomian secara keseluruhan.
Bursa AS telah melewati beberapa guncangan besar dengan selamat. Harga saham-saham AS sempat jatuh satu per satu sesaat setelah serangan teroris ke menara kembar World Trade Center, New York, pada September 2001.
Sektor finansial dan perekonomian AS ketika itu tertolong oleh tindakan cepat dan tepat yang diambil oleh Gubernur Bank Sentral AS Alan Greenspan. Mungkin juga faktor psikologis berperan besar, saat orang Amerika bersedia mengorbankan apa pun demi bangkit kembali dari tragedi tersebut. Wall Street menjadi sangat percaya diri pada periode pasca-Nine Eleven itu.
Kini kondisinya berbeda. Jangankan menolong pemerintah, rakyat AS bahkan tidak mampu menolong diri mereka sendiri.
Saham yang menjadi tumpuan investasi mayoritas warga negara itu, selain properti dan asuransi, tidak punya nilai lagi. Banyak di antara mereka yang kehilangan tempat tinggal karena tidak mampu membayar cicilan kreditnya. Ancaman pengangguran dan penurunan pendapatan di depan mata.
Jika sebelumnya kapitalisme identik dengan peningkatan kemakmuran, agresivitas, pembukaan pasar-pasar baru, kesempatan yang luas, penemuan-penemuan spektakuler, penambahan lapangan kerja, pertumbuhan yang tinggi, keuntungan yang terus bertambah, yang kita dengar sekarang adalah kata-kata yang menyesakkan seperti falling, declining, meltdown, nightmare, crisis...
Deregulasi dan globalisasi memperlihatkan sisinya yang paling buram pada saat ini. Satu per satu raksasa finansial di Wall Street berguguran. Inilah hasil dari pasar yang dibiarkan beroperasi tanpa kendali, yang mereguk keuntungan berlipat-lipat dari transaksi supercepat dibantu oleh kecanggihan teknologi informasi atas berbagai bentuk sekuritas tanpa bentuk.
Globalisasi membuat imbas krisis finansial di AS sampai ke Eropa dan Asia. Kepanikan mendorong aksi jual saham besar-besaran, sehingga indeks bursa jatuh rata-rata 10%, suatu titik psikologis yang mengandung bahaya. Jika pemerintah tidak mampu mengambil keputusan yang tepat, sehingga kepercayaan pasar membaik, indeks saham akan terus menggelinding tidak terkendali, seperti longsoran es di gunung bersalju.
Kini sejumlah pemerintah memilih menalangi (bailout) industri finansial mereka, karena kekeringan likuiditas dan mandeknya kredit akan membuat perekonomian jalan di tempat.
Selain upaya sendiri-sendiri, negara-negara industri maju yang tergabung dalam G-7 dan Dana Moneter Internasional (IMF) akan melaksanakan sidang khusus membahas krisis finansial. Dalam kesempatan itu pemerintah Jepang berencana mengusulkan pembentukan dana pinjaman darurat bagi negara-negara yang terkena krisis. Ini bisa menjadi salah satu solusi. Yang jelas, negara-negara industri harus mampu menyepakati aksi bersama yang berani untuk menyelesaikan krisis finansial ini. Tanpa koordinasi semacam itu, kepercayaan terhadap pasar tidak akan pulih dengan cepat.
Kehancuran sistem finansial kapita-lis membuka peluang bagi munculnya alternatif ideologi ekonomi lainnya, dan lebih berperannya kekuatan ekonomi baru, seperti China dan India. Sidang G-7 sepatutnya melibatkan China sebagai negara dengan cadangan modal terbesar di dunia untuk turut berperan aktif menyelamatkan industri finansial global dari kehancuran.
bisnis.com