Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Tajuk


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Rabu, 15/10/2008

Krugman & globalisasi

Apakah krisis finansial di Amerika Serikat, yang menunjukkan dengan telak kekeliruan pasar bebas murni, mendorong panitia Nobel di Swedia menetapkan Paul Krugman sebagai pemenang Nobel ekonomi tahun ini? Sulit mendapatkan jawaban yang pasti atas pertanyaan ini, mengingat kerja panitia Nobel yang tertutup.

Fakta ini yang jelas, Krugman dikenal sebagai pengkritik tajam kebijakan ekonomi pemerintahan George W. Bush dan pengamat yang andal tentang sisi yang kurang gemerlap dari globalisasi.

Guru besar ekonomi di Princeton University itu berhasil menemukan kaitan antara pola perdagangan dan lokasi aktivitas ekonomi/geografi. "Krugman mengintegrasikan bidang riset yang sebelumnya terpisah, yakni perdagangan internasional dan geografi ekonomi," kata panitia Nobel tentang alasan mereka memilih Krugman. 

Dengan risetnya itu dia menghasilkan teori ekonomi dengan implikasi yang luas dan dalam menyangkut bagaimana globalisasi memengaruhi industri, populasi, kawasan, dan struktur perdagangan negara-negara berkembang.

Dia menjawab pertanyaan mengapa ada kota yang maju dan ada kawasan yang semakin terpinggirkan, mengapa perdagangan yang sukses justru terjadi antara negara-negara penghasil produk yang sama, bukan produk berbeda/komplimentari.

Globalisasi, kata profesor yang juga kolumnis terkemuka itu, cenderung meningkatkan tekanan pada kota-kota, karena spesialisasi menyedot orang ke kota yang menjadi pusat konsentrasi aktivitas, sehingga tercipta perkotaan dengan teknologi tinggi dan yang lainnya adalah wilayah periferi yang tertinggal.

Perkotaan yang penuh sesak menghadapi masalah kependudukan, tingkat kesehatan warga yang buruk, kantong-kantong kemiskinan, tingkat kejahatan yang tinggi, dan kerusakan lingkungan. Sementara itu, penduduk di wilayah periferi tidak menikmati kue pertumbuhan yang sesungguhnya menjadi hak mereka sebagai warga negara.

Krugman juga menjelaskan mengapa perdagangan yang sifatnya komplementer-yang sampai sekarang dengan semangat dianjurkan oleh kaum liberal di berbagai organisasi Bretton Woods-gagal mencapai tujuan, yakni kemakmuran bagi semua. Negara-negara penghasil bahan mentah sulit naik kelas menjadi negara kaya.

Maka terjadilah ironi ini, yaitu negara-negara sumber bahan baku industri tidak mampu berkembang secepat negara-negara produsen barang manufaktur. Masuk akal, karena produk manufaktur lebih mahal daripada harga bahan baku.

Krugman adalah ekonom pertama yang menjelaskan dari sudut ekonomi bahwa  perdagangan seharusnya berlangsung di antara negara-negara yang memproduksi barang serupa. Hal itu akan mendorong spesialisasi dan produksi berskala besar yang  menghasilkan harga lebih rendah dan diversifitas barang yang lebih besar.

Bagi dia, perdagangan bebas bukan segalanya dalam menciptakan pertumbuhan. Buktinya, negara-negara di Amerika Latin yang juga melakukan privatisasi, deregulasi, dan liberalisasi tidak mencapai hasil seperti China dan India saat ini. Masih ada bagian yang belum dapat dijelaskan, mengapa liberalisasi dapat menghasilkan pertumbuhan yang mengesankan di satu negara/kawasan, namun gagal di tempat lain.

Teori Krugman itu mengingatkan kita sebagai negara sedang berkembang untuk tidak menjadi pemain yang naif dalam arena global  tetapi selalu mendahulukan kepentingan nasional, dan bagaimana industrialisasi dapat membuat seluruh wilayah Indonesia makmur secara merata, bukannya menghasilkan kantong-kantong kemiskinan yang baru.

Kita juga perlu merenungkan tempat kita dalam perdagangan internasional. Sudahkah Indonesia berada pada posisi yang kuat berhadapan dengan mitra dagangnya, ataukah masih di kawasan periferi yang cuma mendapatkan remah-remah.

bisnis.com

Berita Lain

  • Selamatkan dana nasabah
  • Tantangan Obama
  • Alkoholik manula
  • Memanfaatkan momentum
  • Bantuan kemanusiaan
  • Kekosongan catatan e-mail
  • Pelatihan kerja
  • Chrysler & bailout pemerintah
  • Dialog China-Tibet