Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Tajuk
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Rabu, 15/10/2008
Peran selanjutnya juru damai andal
Jika bukan karena peran Martti Ahtisaari, mantan presiden Finlandia yang memenangkan Nobel Perdamaian, akan ada banyak orang yang menjadi korban konflik dan kekerasan.
Ahtisaari, yang memimpin Finlandia pada 1994-2000, telah diakui kepiawaiannya sebagai mediator internasional dan penengah konflik regional. Hal itu misalnya untuk kasus konflik di Yugoslavia, Aceh (Indonesia) dan Irlandia Utara.
Panitia Nobel tidak ragu lagi memilih Ahtisaari untuk tidak hanya 'melengkapi' 30 tahun kiprahnya di panggung diplomatik dan sekaligus pengakuan atas upayanya, tetapi juga untuk menegaskan perlunya mediator andal dalam meredakan konflik.
Dua tahun lalu, Panitia Nobel memusatkan pada sosok yang memerangi kemiskinan sebagai peraih Nobel Perdamaian. Tahun lalu fokus bergeser ke masalah pemanasan global. Tahun ini tampaknya panel ingin kembali ke definisi asli tentang perdamaian. Hal ini untuk menghormati jasa mereka yang dengan gagah berani mencegah keganasan perang.
Di era 1970-an, Ahtisaari baru berusia sekitar 40 tahun ketika pertama kali menangani pemecahan konflik dunia saat menjabat sebagai Dubes PBB untuk Namibia. Misi utamanya adalah membuka pembicaraan damai bagi pihak-pihak yang bertikai.
Pada 1990-an, setelah Perang Dingin berakhir, dunia dipenuhi konflik regional. Kembali, Ahtisaari tampil sebagai juru damai andal.
The Asahi Shimbun, 13 Oktober
bisnis.com