Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Tajuk
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Kamis, 16/10/2008
Jangan cepat puas
"This is no time for complacency. This is time for immediate action." Bolehlah kita mengutip kalimat bijak tersebut, yang diucapkan kembali oleh Jean-Claude Trichet, Presiden European Central Bank, Selasa, seperti dikutip Associated Press.
Ya. Jangan cepat puas. Kini justru saatnya bertindak cepat.
Berbagai langkah yang telah dilakukan di tingkat global, termasuk paket Washington yang membeli langsung saham bank-bank besar dengan menyiapkan dana US$250 miliar-serta serangkaian paket rescue yang dilakukan otoritas seantero jagat termasuk Indonesia-memang telah memberi sedikit hasil, yaitu pasar mulai agak tenang.
Namun, dampak krisis keuangan yang sesungguhnya dikhawatirkan baru mulai bekerja. Krisis finansial dikhawatirkan merembet ke sektor riil. Ini berarti, dibutuhkan pendekatan kebijakan yang jauh lebih proaktif dan nonkonvensional, tetapi cepat.
Di Indonesia, misalnya, sejumlah eksportir mulai mengeluhkan order yang seret karena buyers menahan pembelian. Kondisi ini dapat dipahami karena Amerika Serikat, yang kini menjadi biangnya krisis, tengah kesulitan keuangan. Padahal, tekanan ekonomi yang muncul akibat krisis kredit telah merembet dan meluas tidak hanya di AS, tetapi juga di seantero jagat.
Posisi China, misalnya, yang semula diharapkan menjadi bantalan penyelamat karena perannya yang cukup dominan dalam perekonomian global, ternyata juga tidak cukup kuat.
Apalagi jika berharap dari Jepang dan Eropa, yang telah lebih dahulu kelimpungan menahan dampak krisis kredit di AS. Padahal, kedua pasar itu cukup dominan dalam menyerap produk ekspor dunia termasuk dari Indonesia.
Kondisi yang dihadapi China ternyata juga tidak mudah. Bahkan AP melaporkan kini banyak manajer di China yang mulai mencemaskan prospek industri di sektor riil, setelah krisis kredit di AS mulai berdampak kepada tertahannya pesanan produk negeri itu.
Pertumbuhan ekonomi China yang dimotori oleh ekspor tahun ini diperkirakan terpukul akibat melemahnya permintaan ekspor dunia serta tekanan ekspansi kredit perbankan akibat kenaikan suku bunga.
Pelemahan ekspor China tentu bukan main-main. Ini berdampak terhadap penurunan permintaan bahan baku, barang setengah jadi, dan komoditas dari belahan dunia lain, termasuk Indonesia. Sekadar gambaran, separuh dari impor China tahun lalu, yang senilai US$1 triliun, adalah bahan baku.
Faktor China tentu saja tidak bisa dianggap enteng. Apalagi pertumbuhan ekspor negeri itu, sejak kuartal pertama tahun ini, mulai turun pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir ini. Bank sentral China bahkan menyatakan pesanan ekspor di pabrik-pabrik China jatuh ke level terendah sejak 2005.
Jika perekonomian China kian terpukul karena itu, sirnalah harapan agar negeri itu menjadi bantalan bagi peredam krisis. Sebab, merujuk pada data Bank Dunia, China setidaknya menyumbang sepertiga pertumbuhan ekonomi global, yang berarti ekonomi dunia akan makin melorot jika China terpuruk.
Jadi? Benar kata Trichet. Jangan cepat puas. Otoritas, termasuk di Jakarta, mestinya terus bertindak dengan cara yang tepat dan cepat.
Sejumlah jurus yang diambil di pasar modal dan kebijakan moneter di bank sentral dengan pelonggaran likuiditas tampaknya harus diikuti oleh kebijakan antiresesi berikutnya, yaitu penurunan suku bunga.
Resep ortodoks yang sebelumnya telah telanjur diambil dengan pengetatan likuiditas (yang kemudian dilonggarkan) dan kenaikan suku bunga tampaknya bukan lagi jurus yang jitu. Saatnya kini bertindak cepat untuk membalik jurus itu, sebelum terlambat.
bisnis.com