Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Tajuk


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Kamis, 16/10/2008

AS terlalu baik pada Korut

Pemerintah AS pada akhir pekan lalu mencabut Korea Utara dari daftar negara pendukung terorisme. Sebelum Washington mengumumkan keputusannya, Presiden George W. Bush menghubungi PM Taro Aso dan berjanji AS akan tetap mendukung langkah Jepang dalam mengatasi masalah penculikan warganya oleh agen-agen rahasia Pyongyang.

Pesan Bush kepada Jepang sudah sangat jelas: Kami memahami keprihatinan Anda (mengenai isu penculikan) tetapi tidak ada pilihan lain.

Dalam kesepakatan dengan Washington, Pyongyang setuju  mengizinkan pemantau internasional melakukan verifikasi hanya pada reaktor nuklir yang ditetapkan. 

Dunia luar tidak bisa meminta alamat dan lokasi penimbunan senjata nuklir Korut   yang belum diumumkan. Begitu pula terhadap program pengayaan uranium.

Namun, Washington jalan terus dan akhirnya mencoret Korut dari daftar hitam. Jelasnya, Gedung Putih tidak ingin Pyongyang mundur kembali begitu ia sudah melucuti fasilitas nuklirnya.

Tampak bahwa langkah AS juga dipercepat oleh ancaman Korut untuk memulai lagi program memproduksi uranium karena Washington selalu mengulur-ulur waktu untuk mencabut negara itu dari daftar hitam pendukung terorisme.

Akan jauh lebih baik bila Washington mendapat kepastian dan bukan cuma cek kosong.

The Asahi Shimbun, 15 Oktober

bisnis.com

Berita Lain

  • Selamatkan dana nasabah
  • Tantangan Obama
  • Alkoholik manula
  • Memanfaatkan momentum
  • Bantuan kemanusiaan
  • Kekosongan catatan e-mail
  • Pelatihan kerja
  • Chrysler & bailout pemerintah
  • Dialog China-Tibet