Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Tajuk
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Jumat, 05/12/2008
Nah, ini baru benar
Bank Indonesia kemarin memangkas suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 9,25%. Keputusan Rapat Dewan Gubernur BI itu dimaksudkan untuk menambah stimulus bagi perekonomian, yang terpukul gelombang tsunami finansial global belakangan ini.
Bank sentral memangkas suku bunga acuan itu setelah melihat prospek perekonomian, selain tekanan inflasi yang kian mereda, menyusul penurunan harga minyak dan harga komoditas.
Tekanan inflasi diperkirakan akan terus mereda sampai tahun depan, sejalan dengan melemahnya permintaan konsumen akibat krisis global. Artinya, target inflasi 2009 sebesar 6,5%-7,5% dapat lebih mudah tercapai. Dengan demikian, suku bunga BI Rate berpeluang terus dipangkas.
Meminjam kalangan analis, kondisi tersebut akan menjadi awal siklus pemotongan suku bunga acuan. Jika itu terjadi, akan tersedia bahan bakar bagi bergeraknya kembali sektor riil, yang kini mengalami tekanan serius.
Dengan ekspektasi seperti itu, pasar menyambut positif langkah bank sentral tersebut. Kita lihat, misalnya, indeks harga saham gabungan di Bursa Efek Indonesia kemarin kembali menguat ke level 1.205, naik 12,8 poin dari hari sebelumnya, menyusul aksi beli investor terhadap saham sektor perbankan.
Nilai tukar rupiah juga menguat menjadi Rp11.850 per dolar AS. Ini membuktikan bahwa penurunan suku bunga tidak membuat investor melepas rupiah, seperti selalu dikhawatirkan selama ini.
Jelas, kita mendukung langkah antisiklikal tersebut, meski sedikit terlambat. Sebab, bank sentral di sejumlah negara telah sejak 2 atau 3 bulan lalu memangkas suku bunga acuan untuk menolong perekonomian domestik mereka.
Bagaimanapun, langkah BI memangkas suku bunga acuan itu, sekalipun terkesan sangat hati-hati dengan hanya memotong 25 basis poin, akan menjadi pemicu bagi stimulus ekonomi. Selain sektor riil tertolong, pasar surat utang pemerintah diperkirakan kembali hidup.
Diharapkan, penurunan suku bunga itu akan mendorong pasar surat utang pemerintah bergairah lagi, sehingga pembeli asing kembali tertarik masuk. Jika ini terjadi, bukan tidak mungkin nilai tukar rupiah akan terus menguat.
Proses stabilisasi dan pemulihan krisis ekonomi ini akan lebih kuat lagi, jika BI juga menindaklanjuti pemangkasan suku bunga tersebut dengan kebijakan lain yang mendorong arus kredit ke korporat.
Pasalnya, pada bulan-bulan terakhir ini, pertumbuhan kredit mulai terhambat akibat tingginya suku bunga. Selain itu, perusahaan juga khawatir terhadap prospek bisnisnya, sehingga menahan pencairan kredit.
Situasi tersebut harus dicarikan jalan keluar, agar ekspektasi pertumbuhan kredit sebesar 30%, yang berarti aktivitas ekonomi masih terus berjalan, menjadi kenyataan.
Dari sisi pemerintah, selain menyediakan stimulus fiskal melalui kebijakan perpajakan dan anggaran, bukan berarti tidak ada lagi alternatif kebijakan. Penting untuk memperkuat sinergi fiskal-moneter dalam menyediakan stimulus ekonomi, sekaligus memperkuat ketahanan finansial.
Dalam kaitan itu, akan lebih baik lagi kalau pemerintah menyediakan jaminan penuh terhadap simpanan perbankan, tak hanya simpanan sebesar Rp2 miliar, sehingga dana nasabah premium di perbankan nasional tidak berpindah ke negeri lain.
Jika langkah-langkah sinergis itu dapat dilakukan, kita percaya, Indonesia akan relatif lebih tahan menghadapi tekanan finansial global. Bukan tidak mungkin kita dapat pulih lebih cepat mengingat potensi ekonomi dan potensi pasar domestik yang kita miliki saat ini relatif besar.
bisnis.com