Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edis Harian » Teknologi Informasi


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Kamis, 09/08/2007

Smart siapkan dana BTS Rp2 triliun

JAKARTA: PT Smart Telecom (sebelumnya PT Indoprima Mikroselindo) akan menggelar layanan seluler secara komersial berbasis code division multiple access (CDMA) awal September di enam kota di Jawa dengan belanja modal awal sebesar Rp2 triliun-Rp3 triliun.

Direktur Smart Ubaidillah Fatah menandaskan dengan jumlah base transceiver station (BTS) sebanyak 300-350 unit, maka pihaknya optimistis mampu meraih 1,4 juta pelanggan seluler hingga akhir tahun ini.

"Sesuai lisensi modern, hingga akhir 2007 kapasitas jaringan kami ditargetkan mencapai dua juta sambungan dengan belanja modal awal sebesar Rp2 triliun sampai Rp3 triliun. Belanja modal tersebut diprediksi terus bertambah sesuai dengan perkembangan jaringan," tuturnya kepada Bisnis, Senin.

Saat ini Smart Telecom dimiliki oleh empat perusahaan, yaitu PT Inti, PT Global Nusa, PT Mobilindo Telkom, dan PT Wireless Indonesia (Grup Sinar Mas).

Sekitar pekan pertama September, operator tersebut berencana menggelar jaringan seluler CDMA di Jabodetabek, Bandung, Semarang, Solo, Surabaya, dan Malang.

Ubaidillah mengaku lambatnya peluncuran layanan komersial yang seharusnya dilakukan pada Agustus karena penggelaran jaringan di sejumlah daerah cukup sulit. Hal itu karena pemda setempat juga secara ketat mengatur perizinan dan penataan menara telekomunikasi.

"Tidak hanya di Jakarta, kota-kota lainnya seperti Surabaya dan lainnya juga mengatur secara ketat pembangunan menara telekomunikasi sehingga sebagai operator baru, Smart cukup sulit untuk menggelar jaringan," ujarnya.

Namun, lanjut dia, kerja sama dengan operator lain dalam hal menara bersama dan interkoneksi sejauh ini cukup lancar.

Smart diketahui telah memperoleh pembukaan interkoneksi dengan Telkom, Telkomsel, Indosat, Excelcomindo, dan Bakrie Telecom.

Sementara itu Mobile-8 dan Hutchison operator tersebut mengaku masih dalam proses pembukaan.

Tertunda terus

Smart optimistis mampu memasuki pasar telekomunikasi seluler Indonesia yang saat ini jumlah penggunanya telah mencapai 70 juta orang atau penetrasi sekitar 30% dari total penduduk.

Pemerintah dan regulator sebelumnya memberikan batas waktu kepada PT Smart Telecom hingga akhir Juli ini untuk meluncurkan layanannya secara komersial sesuai dengan lisensi modern yang ditandatanganinya. Namun, dengan adanya komitmen penggelaran jaringan awal September, maka regulator menunggu realisasinya.

Sesuai suratnya kepada BRTI (Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia), operator dari Grup Sinar Mas tersebut bermaksud mengomersialkan layanan seluler CDMA di tiga kota meliputi Bandung, Surabaya, dan Jakarta, pertengahan April lalu. (arif.pitoyo@bisnis.co.id)

Oleh Arif Pitoyo
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • Akses data jadi tren di Bali & Nusa Tenggara
  • Smartphone kuasai 10% pasar ponsel
  • Operator siap patuhi tarif batas bawah SMS
  • Telekomunikasi tumbuh 10%
    Insentif bea masuk kabel optik disiapkan