Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edis Harian » Teknologi Informasi
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Rabu, 23/01/2008
Telkom perkuat bisnis internasional
JAKARTA: PT Telkom Tbk akan mengembangkan bisnis wholesale internasional di 12 negara tetangga selain mengembangkan infrastruktur di seluruh Indonesia seiring selesainya pengambilan kerja sama operasi (KSO) di seluruh divisi regional tahun lalu.
Dirut Telkom Rinaldi Firmansyah mengungkapkan tahun ini pihaknya akan lebih mengembangkan bisnis internasional yang telah dimulai sejak tahun lalu melalui kontrak penyewaan transponder Timor Leste.
"Melalui PT Telkom Internasional Indonesia, maka kami akan mencoba merambah pasar luar negeri, khususnya negara-negara tetangga, dengan tidak melupakan pembangunan jaringan di dalam negeri," tuturnya kemarin.
PT Telkom Tbk berhasil memenangkan kontrak penyewaan transponder satelit yang diselenggarakan Dewan Penyiaran Radio dan Televisi Timor Leste. Selain itu, operator itu juga turut membantu pemerintahan Nigeria dan Ekuador dalam pengembangan manajemen telekomunikasi melalui pertukaran pengetahuan dan sumber daya manusia.
Rinaldi mengungkapkan kontrak penyewaan transponder di Timor Leste tersebut merupakan langkah awal pengembangan bisnis internasional ke depan.
Tahun ini BUMN telekomunikasi itu akan mengembangkan bisnis wholesale internasional di Papua Nugini, Filipina, Brunei Darussalam, Singapura, Malaysia, Thailand, Taiwan, Kamboja, Laos, dan Myanmar.
Di dalam negeri, Telkom optimistis mampu mengembangkan jaringannya di seluruh Tanah Air melalui pengembangan jaringan broadband Speedy dan telepon nirkabel Flexi.
Di segmen broadband Speedy, Telkom menargetkan pertambahan jumlah pelanggan sebanyak 700.000 orang, di mana 100.000 datang dari Divre II Jakarta. Operator itu menyiapkan anggaran Rp800 miliar untuk pengembangan broadband dan Rp3 triliun untuk Telkom Flexi.
Masalah KSO
Rinaldi mengatakan selesainya persoalan yang terkait KSO menjadikan Telkom lebih fokus membangun infrastruktur pita lebar dan Flexi, terutama di wilayah timur Indonesia.
Namun, dalam sebuah rapat kerja Komisi I DPR belum lama ini, anggota DPR Deddy Djamaluddin menyoroti masalah penyelesaian KSO yang mungkin belum tuntas.
"Bila terkait dengan aspek-aspek yang bisa menimbulkan kerugian negara atau publik, maka kasus-kasus yang terkait kerja sama operasi Telkom di berbagai divisi regional sebaiknya tidak dipetieskan," ujar Deddy.
Jadi, lanjutnya, persoalan yang menyangkut KSO harus diselesaikan sampai tuntas karena bila tidak akan selalu menimbulkan pertanyaan publik.
Salah satu yang disoroti kalangan DPR adalah masalah penyelesaian KSO di Divre IV dengan PT Mitra Global Telekomunikasi Indonesia (MGTI).
Seperti diketahui, dalam melakukan amendemen KSO aset PT MGTI akan beralih ke pihak ketiga PT Alberta Telecommunication sampai 2010. Alberta dan pemegang saham MGTI kemudian menandatangani sale and purchase agreement atas 100% saham MGTI senilai US$266 juta pada 24 September 2003. (arif.pitoyo@bisnis.co.id)
Oleh Arif Pitoyo
Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- MONITOR
CDMA jangkau 106 negara - AKSES
India tunda nomor portabel - AKSES
Wikipedia galang sumbangan - AKSES
IBM akuisisi ILOG - E-STRATEGY
Berbagi infrastruktur TI perusahaan