Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edis Harian » Teknologi Informasi
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Senin, 11/02/2008
Margin keuntungan bisnis ritel ponsel kian tipis
ITC Roxy Mas, Jakarta, telanjur identik sebagai pusat penjualan handset telepon seluler (ponsel). Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika harga handset di pusat penjualan ponsel itu selalu menjadi tolok ukur perbandingan harga.
Selain toko atau outlet resmi beberapa vendor, pusat penjualan ponsel itu justru lebih banyak disesaki oleh pada pedagang tingkat ritel atau retailer yang lebih akrab di telinga kita sebagai toko ponsel.
Sekilas memang kondisi itu mencerminkan maraknya bisnis toko ponsel, sehingga semakin memudahkan calon pembeli dalam berburu handset. Akan tetapi, kondisi itu justru menggiring para pedagang pada kondisi yang cukup pelik: margin keuntungan semakin tipis.
Goris, salah satu pedagang handset di ITC Roxy Mas, mengakui relatif mudah menjual ataupun melakukan perputaran uang pada bisnis ritel ponsel tersebut.
"Namun, keuntungan yang dapat diraih belum tentu bagus, bahkan sering kali mengecewakan," ujarnya kepada Bisnis.
Lain lagi yang dialami Rudy Anto. Pedagang ponsel yang satu ini mengatakan sejak berjualan tahun 2000 hingga sekarang, perdagangan ponselnya relatif stabil. "Penjualan selama ini berjalan stabil. Sesekali ada penurunan, namun tidak terlalu parah," ujarnya.
Akan tetapi, para pedagang lama, seperti Goris, justru mengeluhkan banyaknya pemain baru membuat kompetisi penjualan menjadi tidak sehat lagi.
"Karena telah terjadi perang harga yang membuat harga handset makin menurun, sehingga memperkecil keuntungan kami," ujar Goris.
Oleh karena itu, dia berharap agar para prinsipal, seperti Nokia dan Sony Ericsson menetapkan standar harga yang pasti untuk tingkat peritel. "Jadi, seperti harga yang ditetapkan untuk penjualan toko dan show room."
Di tengah kondisi yang sulit seperti itu, para pedagang handset di ITC Roxy Mas sangat terbantu oleh keberadaan handset bekas. Bisnis jual beli handset bekas menjanjikan peluang yang cukup menggiurkan.
Setiap hari para pedagang rata-rata mampu menjual sekitar 20 unit handset bekas. "Omzetnya bisa mencapai Rp40 juta hingga Rp50 juta," ujar Goris.
Sebuah angka angka tidak kecil untuk ukuran toko ponsel.
"Para pengunjung di ITC Roxy Mas tidak hanya bertujuan untuk membeli handset baru, namun juga untuk menjual handset mereka," tandas Rudy.
Kehadiran penjual handset di tingkat retailer tersebut juga sangat penting bagi bisnis seluler, terutama dari sisi operator.
Jadi telinga
Maklum, mereka sering menerima keluhan mengenai dengan fitur ponsel, terutama yang berkaitan dengan fitur ponsel. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan kalau mereka sering menjadi perpanjangan telinga para operator.
Goris mencontohkan kekecewaan masyarakat saat operator menggembar-gemborkan layanan 3G. Saat membeli ponsel 3G, banyak pelanggan yang mengeluhkan tidak berfungsinya layanan SMS dan percakapan berbasis 3G.
"Setelah ditelusuri ternyata signal 3G tidak berjalan baik, namun setelah dipindah ke jaringan GSM, layanan itu berfungsi normal," ujarnya.
Di mata pedagang, isyu 3G hanya dirasakan sebagai booming sesaat, karena kualitas jaringannya kurang memadai. Dengan kata lain, jargon 3G pada akhirnya juga tak mampu menggiring pembeli ponsel untuk berbondong-bondong mengoleksi ponsel 3G.
Yang jelas, para pedagang ponsel di ITC Roxy Mas tengah mencari momentum kebangkitan di tengah kesulitan meraup margin keuntungan. (redaksi@bisnis.co.id)
Oleh Karnain Lukman
Kontributor Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- ETALASE
Yang beda dari Canon D10 - Akhir cerita SMS premium
- ETALASE
Pesona ponsel 3,5 G Nokia - Yang baru dari Firefox 3.5
Belum adanya fitur home page cukup disayangkan - MONITOR
Facebook jadi primadona di RI