Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edis Harian » Teknologi Informasi


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Sabtu, 17/05/2008

Menyoal interoperabilitas transaksi mobile wallet & smart card

Dalam gelar Asia Pacific Conference and Exhibition 2008 dua pekan lalu, kalangan perbankan dan operator telekomunikasi bersemangat mempromosikan transformasi ke less cash society. Salah satunya adalah layanan pembayaran mikro melalui mobile wallet atau mobile transaction. Di pihak lain ada juga penggunaan kartu cerdas (smartcard).

Perkembangan transaksi mobile diperkirakan terus mengalami pertumbuhan seiring dengan pesatnya penetrasi seluler. Saat ini dua operator telekomunikasi telah mengantongi izin alat pembayaran menggunakan kartu dari Bank Indonesia yaitu PT Telkomsel melalui Telkomsel Cash dan PT Indosat dengan layanan Dompetku. Dengan menggabungkan basis pelanggan dari kedua operator, ada sekitar 75 juta pelanggan seluler yang berpotensi menggunakan layanan pembayaran mikro tersebut. Belum lagi, rencana operator PT Telkom yang juga segera menyusul melalui FlexiCash.

Seiring dengan berjalannya edukasi, masyarakat kian menyadari pentingnya teknologi yang menjanjikan kemudahan, kepraktisan, efektivitas, dan efisiensi pembayaran ini.

Manfaat lainnya dari layanan ini adalah bank tidak perlu menyiapkan dana yang besar, karena layanan ini tidak butuh perawatan terhadap delivery channel. Sementara transaksi bisa dilakukan di mana pun nasabah berada, selama ponselnya aktif. Berbagai transaksi perbankan, seperti transfer antarrekening, pembayaran tagihan, cek saldo ataupun isi pulsa, bisa dengan mudah digunakan. Seseorang yang menggunakan ponsel miliknya sendiri tinggal masuk ke menu transaksi yang dituju, dan memilih layanan transaksi yang ingin dipilih menjadikan ponsel seolah-olah sebuah mesin ATM bergerak.

Di sektor perbankan, bank-bank tinggal setahap lagi untuk segera mengalihkan penggunaan kartu magnetik pada kartu ATM dan kartu kredit ke kartu chip sesuai dengan jadwal yang diberikan Bank Indonesia.

Dengan teknologi chip, kartu cerdas ini bisa dipakai untuk keperluan apa saja. Dengan satu kartu saja, setiap orang bisa melakukan transaksi apa pun. Selain transaksi perbankan, dapat pula dilakukan mulai dari membayar segala tagihan hingga transaksi pembayaran mikro.

Sebetulnya, jika teknologi chip sudah menyatu, antara kartu kredit, kartu ATM dan kartu pra bayar pun bisa disatukan.

Saling terintegrasi

Namun penting untuk dipahami, kelancaran dalam transaksi mobile membutuhkan integrasi antara layanan elektronis perbankan dan operator telekomunikasi atau integrasi dalam menyambungkan nasabah bank dengan pengguna ponsel.

Integrasi juga menjadi kunci sukses pada transaksi elektronik yang menggunakan electronic data capture. Dengan kata lain, hal yang sama juga dibutuhkan pada layanan kartu kredit atau ATM yang sudah beralih menggunakan smart card, sebab teknologi kartu chip membutuhkan infrastruktur yang memadai.

Agar layanan tadi berkembang, operator dan bank perlu menjaring lebih banyak merchant bahkan biller. Di sini operator dan bank membutuhkan peran dan keahlian pemilik payment gateway seperti PT Artajasa Pembayaran Elektronis dan PT Finnet Indonesia agar dapat terhubung dengan merchant atau biller untuk berbagai jenis pembayaran.

Lebih jauh, pengembangan teknologi-teknologi itu masih harus tetap dikelola dengan cermat mengingat masih adanya beberapa hambatan, seperti masalah keamanan sampai dengan masih banyaknya masyarakat yang belum mengetahui penggunaan model transaksi seperti ini.

Tidak ada integrasi dan interoperabilitas memungkinkan terjadinya kegagalan aksesibilitas. Pada saat transaksi gagal justru efisiensi tidak terjadi karena pengguna layanan atau pengguna kartu masih juga harus menggunakan uang tunai atau mencari uang cash lagi. Akhirnya ujung-ujungnya sama dengan ketika menggunakan kartu magnetik pada anjungan tunai mandiri.

Lantaran teknologi pada transaksi mobile dan penggunaan kartu chip butuh infrastruktur yang memadai maka setelah semua sistem sudah standar langkah selanjutnya adalah interoperabilitas.

Proses interoperabilitas akan menjadikan transaksi mobile ataupun transaksi menggunakan teknologi kartu chip dapat memenuhi skala ekonomi yang dibutuhkan, sehingga bisnisnya menjadi menguntungkan bagi semua pihak. Dalam hal ini peran switching menjadi penting. (redaksi@bisnis.co.id)

Oleh Roni Yunianto
Wartawan Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • KLIK
    Transaksi via seluler berlipat 10 kali
  • KLIK
    Autodesk digunakan dalam Olimpiade
  • KLIK
    Tarif SMS lintasnegara akan diatur
  • Bisnis layanan broadband belum tergarap optimal