Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edis Harian » Teknologi Informasi


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Rabu, 20/08/2008

Pemerintah alokasikan dua frekuensi WiMax

JAKARTA: Pemerintah akan mempertimbangkan alokasi frekuensi 2,3 GHz untuk teknologi akses worldwide interoperability for microwave access (WiMax) berstandar 16.e atau mobile WiMax. Adapun untuk nomadic WiMax atau standar 16.d diperkirakan menempati alokasi di 3,3GHz.

Suhono Harso Supangkat, Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Informatika, menuturkan pihaknya masih dalam tahap mempertimbangkan alokasi itu.

"Ini belum jadi keputusan. Masih ada waktu beberapa pekan lagi untuk kami bahas kemudian kami putuskan boleh atau tidaknya," ujarnya saat dikonfirmasi Bisnis kemarin.

Suhono belum dapat menegaskan kemungkinan operator seluler tertarik untuk mengambil peluang di mobile WiMax kendati saat ini ada dua aliran teknologi nirkabel yang berkompetisi yang masing-masing menawarkan kapasitas dan mobilitas yaitu LTE dan WiFi/WiMax.

Penentuan penyelenggaraan WiMax di daerah akan mempertimbangkan parameter seperti penambahan konektivitas, teknologi akses yang lebih murah, penguatan industri dalam negeri dan ekonomi dari spektrum atau dalam hal ini besar pembayaran frekuensinya.

"Kami juga baru berdiskusi dengan Komisi Persaingan Usaha menyangkut praktik monopoli dan kompetisi khususnya dalam hal efisiensi pe-nguasaan frekuensi," ujarnya.

Kalangan operator seluler umumnya masih mempertimbangkan antara melanjutkan generasi teknologi ke long term evolution (LTE) sebagai lanjutan 3G atau ke mobile WiMax. Di antaranya Grup Telkom sedang mempertimbangkan WiMax sebagai backhaul, yaitu jaringan penghubung an- tara menara dan  jaringan induk.

Operator seluler


Manajemen Indosat mempertimbangkan WiMax sebagai salah satu akses broadband nirkabel.

Bambang Priantono, Direktur PT Aplikanusa Lintasarta-anak usaha PT Indosat Tbk, menuturkan pengadopsian teknologi akses tersebut masih menjadi pembahasan di tingkat grup Indosat.

"Tentu saja teknologi broadband wireless access [BWA] ini sangat kami pertimbangkan dan sangat mungkin untuk dipakai," ujarnya kepada Bisnis.

WiMax, tuturnya, akan dimanfaatkan sebagai alat (tool) yang cocok untuk kebutuhan pelanggan. Dalam perkembangan lain, operator XL masih belum dapat menentukan pilihan.

Myra Junor, General Manager Corporate Communication XL, menuturkan perseroan masih mengkaji Wi- Max dari berbagai aspek. "Kami kaji ini dari aspek teknis, bisnis maupun peraturannya," ujarnya kepada Bisnis.

Teknologi akses mobile WiMax memungkinkan zona akses nirkabel yang mencakup wilayah lebih luas serupa jaringan seluler yang ada saat ini. Komputer notebook, perangkat kategori baru netbook serta perangkat Internet bergerak (mobile Internet device) yang berukuran layar di bawah 5 inci dapat tersambung Internet melalui WiMax ketika tidak terjangkau oleh hotspot WiFi, sehingga memungkinkan akses pita lebar (broadband) di mana saja.

Pabrikan prosesor dunia seperti Intel telah mengembangkan solusi terintegrasi WiFi/WiMax sebagai pilihan bagi sejumlah notebook berprosesor Intel Centrino. (roni.yunianto@bisnis.co.id)

Oleh Roni Yunianto
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • Akses data jadi tren di Bali & Nusa Tenggara
  • Smartphone kuasai 10% pasar ponsel
  • Operator siap patuhi tarif batas bawah SMS
  • Telekomunikasi tumbuh 10%
    Insentif bea masuk kabel optik disiapkan