Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edis Harian » Teknologi Informasi


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Kamis, 21/08/2008

'BPD syariah perlu sinergikan sistem TI'

SURABAYA: Bank pembangunan daerah (BPD) yang tertarik mengembangkan bisnis bank syariah perlu mempertimbangkan penggabungan sistem teknologi informasi (TI) dan model bisnis antara bank induk yang konvensional dan divisi syariahnya.

Adiwarman Karim, Presiden Direktur Karim Consulting, menyatakan penggabungan sistem yang sinergis antara sistem TI dan model bisnis justru memicu pertumbuhan aset unit usaha syariah (UUS) ataupun bank umum syariah (BUS).

"Penggabungan sistem TI dan model bisnis penting untuk membantu divisi syariah, karena adanya keterbatasan sistem yang dimiliki BUS dan UUS," katanya di sela-sela workshop BDP syariah  beberapa waktu lalu.

Dia memberikan contoh Bank Niaga Syariah yang tercatat memiliki aset sebesar Rp700 miliar per  November 2007. Saat itu  Bank Niaga Syariah  masih memisahkan sistem TI dan business model-nya. Namun, setelah itu diadakan penggabungan sistem dengan bank induknya yang memakai sistem konvensional.

"Hasilnya, aset Bank Niaga Syariah pada Desember 2007 melejit menjadi Rp1,1 triliun. Ini merupakan bukti bahwa penggabungan sistem dengan tetap memberi aturan yang tegas antara bisnis yang konvensional dan syariah adalah cukup baik bagi perkembangan bank syariah," jelasnya.

Adiwarman menilai sepanjang aturannya jelas, tidak akan ada pencampuran dana yang dimiliki bank konvensional dan syariah. Dukungan infrastruktur bank induk yang bersistem konvensional ini akan sangat mendorong ekspansi UUS dan BUS.

"BPD yang sudah memiliki UUS maupun bersiap mendirikan UUS sepatutnya mempertimbangkan penggabungan sistem TI dan business model-nya," tegasnya.

Saat ini ada 65 BPD yang memiliki UUS dari total 26 BPD yang beroperasi di seluruh Indonesia. BPD yang memiliki UUS itu di antaranya Bank Jabar Syariah, Bank DKI Syariah, BPD Riau Syariah, BPD Kalsel Syariah, BPD Sumut Syariah, BPD Aceh Syariah, BPD NTB Syariah, BPD Kalbar Syariah, BPD Sumsel Syariah, BPD Kaltim Syariah, BPD DIY Syariah, BPD Sulsel Syariah, Bank Jatim Syariah, BPD Jateng Syariah, BPD Nagari Syariah, dan BPD Kaltim Syariah.

"Workshop bagi BPD yang memiliki UUS ini untuk menambah wawasan sehingga pertumbuhan bisnis bank syariah di daerah semakin berkembang," ujar Samsul Arifin ketua pelaksana workshop yang juga menjabat direktur pemasaran Bank Jatim. (k14)

Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • Akses data jadi tren di Bali & Nusa Tenggara
  • Smartphone kuasai 10% pasar ponsel
  • Operator siap patuhi tarif batas bawah SMS
  • Telekomunikasi tumbuh 10%
    Insentif bea masuk kabel optik disiapkan