Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edis Harian » Teknologi Informasi


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Sabtu, 30/08/2008

Kelangkaan tenaga TI jadi pendorong outsourcing

Paman Gober, miliuner di Republik Bebek, pusing tujuh keliling. Ribuan karung uang emas yang berserakan di gudang uang miliknya terserang jamur. Tak ada lagi kilauan mengkilat, yang ada hanya warna kusem dan bau apek.

Terbayang segera di benaknya mencuci uang tersebut. Satu per satu. Ternyata, untuk membuatnya kembali kinclong, butuh waktu sekitar satu jam. Tokoh kikir ini langsung stress. Namun, itu tidak lama.

Dia segera ingat keponakannya yang jenius, Lang Ling Lung. Paman Gober segera memintanya menangani persoalan. Maka, terciptalah sapu pembersih otomatis yang membuat uang mengkilat hanya dalam satu menit. Paman Gober pun bisa  kembali senyum.

Dalam dunia nyata, mendelegasikan kepada  pihak eksternal yang spesialis guna menangani pekerjaan internal adalah hal yang biasa ditemukan. Menerapkan proses outsourcing saat ini adalah sebuah kelaziman.

Karenanya, ada banyak 'Paman Gober' di sekeliling kita yang memercayakan Lang Ling Lung' untuk menangani sistem di dalam perusahaan. Termasuk juga dalam bidang teknologi informasi (TI).  

Survei lembaga riset telematika, Sharing Vision, tahun lalu terhadap 100 perusahaan di Indonesia menunjukkan bahwa 67 dari responden itu menganggap outsourcing atau alih daya teknologi informasi (TI) sebagai kegiatan sangat penting dan harus dilakukan.

Karenanya, anggaran total yang dianggarkan setiap tahunnya cukup signifikan. Perusahaan yang menganggarkan biaya outsourcing lebih dari 20% dari total anggaran TI tahunan tercatat  23 dari 100 perusahaan.

Yang lainnya mengalokasikan dana sebesar 10%-20% dari total anggaran perusahaan sebesar 31 perusahaan, 5%-10% (23 perusahaan), serta kurang dari 5% (23%). Nominal anggarannya sendiri tak bisa disebut kecil, 38 perusahaan menganggarkan biaya lebih dari Rp100 miliar, 25 perusahaan menganggarkan biaya Rp50-Rp100 miliar, 6 perusahaan Rp10 miliar-Rp50 miliar, 25 perusahaan Rp1 miliar-Rp10 miliar, dan 6 perusahaan kurang dari Rp1 miliar. 

"Bahkan, separuh dari responden sudah berencana menganggarkan biaya outsourcing lebih tinggi pada tahun anggaran berikutnya," kata Chairperson Sharing Vision Dimitri Mahayana kepada Bisnis.

Angka ini sejalan tren global. Hasil riset Gatner pada November 2005 menunjukkan perusahaan yang menyediakan anggaran outsourcing pada 2004 lalu mencapai 73%, di mana 88% di antaranya berasal dari perusahaan dengan aset lebih dari US$1 miliar.

Survei Gatner kemudian merilis bahwa pertumbuhan pasar outsourcing TI dunia secara keseluruhan pada 2005 mencapai 8,7%, sedangkan pertumbuhan tahun selanjutnya sebesar 8,7%. Sekilas saja dari angka ini terlihat, betapa perusahaan sangat butuh outsourcing.

Bukan faktor efisiensi

Persoalannya kemudian, mengacu data dua lembaga riset tersebut, ada perbedaan motivasi sangat mencolok dalam penerapan outsourcing antara perusahaan dalam negeri dan global.

Ternyata, jika mayoritas perusahaan dunia melakukannya untuk sebuah penghematan, maka di Indonesia justru sangat sedikit perusahaan yang menerapkan outsorucing guna efisiensi anggaran.

Sebaliknya di Indonesia, alasan utama mendelegasikan pekerjaan internal kepada pihak luar itu, karena kurangnya tenaga kerja ahli di dalam perusahaan. Perusahaan dunia menempatkan alasan itu dengan persentase yang relatif rendah.

Jadi,  ini menandakan bahwa tenaga ahli TI di dalam perusahaan masih kurang, baik secara kuantitas maupun kualitas. Akibatnya, proses outsourcing TI di negeri ini bukannya berpotensi menghemat, tapi malah bisa memicu membengkaknya anggaran.

Harus diakui memang, jika tenaga ahli TI di negeri ini masih belum sebagus yang diharapkan. Kalaupun ada, sebarannya masih belum merata karena kebanyakan masih terpusat di kota besar, khususnya di Jakarta saja.  

Bagaimanapun, akar proses pendelegasian ini tetap terletak pada persoalan sumber daya manusia. Jika perusahaan memiliki kekuatan untuk terus menyempurnakan kemampuan sumber daya internal, keahlian eksternal jelas tidak dibutuhkan lagi.

Akan tetapi, apabila belum ada pilihan selain membutuhkan orang lain, maka kemampuan diri sendiri akan habis dengan sendirinya. Kekuatan yang seharusnya dibagi ke orang terdekat, dengan terpaksa malah diberikan kepada sumber daya luar.

Jadi, adakah minimnya tenaga berkualifikasi  TI ini di perusahaan akan terus jadi masalah? Ataukah, memang, belum ada pilihan terbaik selain outsourcing? Jika terus diam terpaku, rasanya 'Paman Gober' di negeri ini akan selalu butuh tenaga 'Lang Ling Lung'.  (muhammad.sufyan@bisnis.co.id)

Oleh Muhammad Sufyan
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • Akses data jadi tren di Bali & Nusa Tenggara
  • Smartphone kuasai 10% pasar ponsel
  • Operator siap patuhi tarif batas bawah SMS
  • Telekomunikasi tumbuh 10%
    Insentif bea masuk kabel optik disiapkan