Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edis Harian » Teknologi Informasi


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Jumat, 05/09/2008

Industri software cemaskan pembajakan

JAKARTA: Lambatnya perkembangan industri software (peranti lunak) di Indonesia dilatarbelakangi oleh kurangnya kepedulian masyarakat akan masalah hak intelektual dan ketidakmengertian perbedaan antara produk software asli dan bajakan.

Indra Sosrodjojo, Direktur PT Andal Software Sejahtera, mengatakan industri software (peranti lunak)  lokal  masih sedikit dan perkembangannya lambat.

Hal itu sangat berbeda dibandingkan dengan perkembangan industri di luar negeri yang sangat pesat.

"Contoh saja Microsoft yang membuat software dan dijual secara massal. Begitupun produk software rumahan juga bisa berkembang baik," ujarnya  kemarin.

Dia menambahkan kini ada sekitar 300 perusahaan teknologi informasi (TI) di Indonesia. Sekitar 98% dari perusahaan tersebut berkecimpung di bidang integrasi sistem dan jasa, yang menggunakan peranti lunak dari luar negeri lalu diimplementasikan.

Sisanya 2% adalah perusahaan TI yang bergerak di bidang penjualan produk TI dan  perusahaan yang membuat peranti lunak yang disesuaikan  dengan kebutuhan pengguna.

Di luar negeri, umumnya perusahaan peranti lunak membuat produk untuk mencapai suatu titik agar produk bisa dijual secara massal, sehingga mereka dapat melakukan perkembangkan bisnisnya.

"Di Indonesia, maraknya pembajakan menghambat hal tersebut," kata Indra.

Muhammad Ismail Thalib, Direktur PT Zahir International, mengatakan Zahir optimistis apabila permasalahan pembajakan dan kesadaran HAKI di Indonesia dapat diatasi, akan mudah bagi perusahaannya untuk masuk ke skala massal.

"Untuk mecapai critical mass, Zahir harus menumbuhkan bisnisnya sebesar 80%. Namun, dengan adanya pembajakan potensi pendapatan perusahaan menjadi berkurang jauh," katanya.

Menurut Indra, faktor sumber daya manusia juga memengaruhi tidak berkembangnya industri software di Indonesia. Dia mengatakan sebenarnya Indonesia memiliki orang-orang andal di bidang teknologi informasi.

"Mahasiswa lulusan TI di Indonesia jarang memiliki dorongan untuk terjun menjadi pengembang software. Mereka khawatir kegiatan mereka jadi sia-sia karena produknya dibajak," katanya.

Dia mengakui susah mencari programer di Indonesia, karena mereka lebih banyak lari ke luar negeri untuk mendapatkan pendapatan yang lebih.

"Jika saja industri ini berkembang di Indonesia, saya pun berani bayar gaji mereka tinggi," tukasnya.

Tahun ini PT Andal mengalami peningkatan penjualan sebesar 30% dari 2007 lalu. Andal menargetkan pendapatannya akan naik 100% tahun depan. Produk Andal terdiri dari Kharisma Software dan Pay Master.  Software itu terdiri dari  payroll, PPH 21, attendance, dan HR.

Indra mengatakan produk Kharisma berkontribusi sebesar 65% dari total pendapatan perusahaan. Sampai saat ini mereka memiliki 100 klien.  

Indra mengatakan pada umumnya perusahaan di Indonesia menyukai software lokal, karena sesuai dengan karakter dan kebutuhan mereka. Hal ini membuat software Andal tidak memiliki pesaing dari perusahaan luar.

"Mereka tidak mengetahui karakter pengguna di dalam negeri sehingga tidak bermain di pasar lokal," katanya.

Biaya produksi


Dia memperkirakan hanya ada 10 perusahaan peranti lunak lokal yang bermain di pasar Indonesia. Dari populasi penduduk Indonesia yang berjumlah 250 juta, jika 1%-nya saja sudah beralih ke peranti lunak asli,  hal itu akan menjadi pendorong industri software lokal termasuk Zahir.

"Dengan bergabungnya Zahir ke BSA, diharapkan dalam lima tahun ke depan pendapatan kami bisa meningkat sebesar 50% dan lebih peduli untuk ikut mengembangkan perusahaan akuntansi di Indonesia," kata Ismail.

Donny A Sheyoputra, Consultant Indonesia Committee BSA, mengatakan tidak ada maksud oleh para pengembang peranti lunak  untuk memahalkan produknya sehingga memberatkan konsumen.

"Ada biaya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan software dan jumlahnya besar yang menjadikan harganya mahal. Mereka antara lain harus membayar pajak, melakukan promosi, dan membayar programer."

Donny menyebutkan nilai pendapatan yang hilang dengan adanya  peranti lunak bajakan di Indonesia pada tahun 2006 sebesar US$380 juta. Ini menjadikan Indonesia berada di urutan delapan sebagai negara yang paling tinggi tingkat pembajakannya dengan persentase pembajakan sebesar 85%. Adapun pada 2007 peringkat Indonesia turun ke urutan 12 dengan nilai US$411 juta dengan persentase pembajakan turun menjadi 84%.

Dia mengatakan melihat dari data ini meskipun tingkat pembajakan turun, hilangnya peluang perusahaan untuk mendapatkan keuntungan (oppurtinity loss) naik. (14) (redaksi@bisnis. co.id)

Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • Akses data jadi tren di Bali & Nusa Tenggara
  • Smartphone kuasai 10% pasar ponsel
  • Operator siap patuhi tarif batas bawah SMS
  • Telekomunikasi tumbuh 10%
    Insentif bea masuk kabel optik disiapkan