Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edis Harian » Teknologi Informasi


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Jumat, 10/10/2008

E-STRATEGY
Tekan TCO dengan open source

Dewasa ini, seorang CIO (chief information officer) senantiasa dituntut untuk meningkatkan value added (nilai tambah) dari investasi teknologi informasi (TI), baik berupa perangkat keras, lunak maupun sumber daya manusianya.

Selain itu, mereka juga dituntut untuk mampu menekan total cost of ownership (TCO) dari perangkat-perangkat tersebut. Salah satu strategi yang bisa diterapkan oleh para CIO adalah dengan mengadopsi open source strategy.

Strategi sumber terbuka  adalah sebuah strategi di bidang manajemen teknologi informasi yang menitikberatkan pada penggunaan produk perangkat lunak yang bebas dari biaya lisensi (licensing cost). Beberapa produk perangkat lunak bebas biaya lisensi sudah dikenal di komunitas TI misalnya sistem operasi Linux, aplikasi desktop OpenOffice, database MySQL dan aplikasi ERP Compiere.

Dengan menerapkan open source strategy, TCO dari perangkat lunak yang dipergunakan di berbagai perusahaan bisa dikurangi secara drastis. Misalnya,  sebuah bank dengan 250 cabang di mana setiap cabang ada 20 PC dan 1 unit server, apabila  menggunakan sistem operasi Windows,  setiap cabang harus membayar lisensi untuk 1 unit sistem operasi Windows Server (dengan harga standar US$500) dan 20 unit sistem operasi Windows (dengan harga standar 20 X US$37) sebesar US$1.240.

Jadi untuk perlengkapan sistem operasi saja, bank tersebut harus membayar 250 X US$1.240 = US$310.000, itupun juga dengan asumsi konservatif di mana konfigurasi sistem operasi yang digunakan bersifat basic/standard. Perlu diingat bahwa biaya tersebut belum termasuk biaya pemeliharaan dan upgrade.

Sebagai perbandingan, apabila bank itu atas menggunakan sistem operasi Linux, total biaya yang harus dikeluarkan sangat jauh di bawah US$310.000. Misalnya, dengan menggunakan sistem operasi Ubuntu Linux, bank itu sama sekali tidak mengeluarkan biaya lisensi, baik untuk server maupun untuk PC.

Biaya yang harus dikeluarkan adalah biaya instalasi dan pemeliharaan di mana biaya tersebut bisa dibebankan ke tenaga internal TI atau  menggunakan jasa pihak ketiga. Pada umumnya biaya yang harus dikeluarkan untuk jasa pihak ketiga tersebut tidak lebih dari US$300 per cabang. Jadi dengan 250 cabang, total biaya yang harus dikeluarkan untuk sistem operasi tidak lebih dari US$75.000.

Pertanyaannya adalah mengapa penggunaan open source di berbagai perusahaan masih sedikit dibandingkan dengan perangkat lunak lisensi? Penerimaan open source di berbagai perusahaan masih menjadi kendala pada saat ini, karena masih kuatnya persepsi bahwa produk open source sangat berisiko terkait dengan keamanan yang tidak terjamin dan dukungan pemeliharaan yang minim. Persepsi tersebut bisa dimengerti karena pada awalnya pengembangan open source belum terkoordinasi dengan baik.

Namun, sekarang banyak perusahaan TI serius mendukung pengembangan open source dan isu keamanan serta dukungan produk benar-benar menjadi perhatian utama komunitas pengembang open source.

Oleh Richard Kumaradjaja
Praktisi serta konsultan TI dan manajemen

bisnis.com

Berita Lain

  • AKSES
    Lonjakan trafik XL 400%
  • Akses data jadi tren di Bali & Nusa Tenggara
  • Smartphone kuasai 10% pasar ponsel
  • Operator siap patuhi tarif batas bawah SMS