Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edis Harian » Teknologi Informasi


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Sabtu, 11/10/2008

Suburnya budaya berbagi pengetahuan di Internet

Apabila generator kemajuan korporasi pada dekade 90-an selalu bersumber lembaga riset dan penelitian internal, boleh jadi lanskap tersebut mulai banyak berubah seiring dengan kehadiran teknologi Internet.

Betapa tidak. Budaya berbagi pengetahuan (knowledge sharing) yang lazim dilakukan sesama pengguna Internet telah merubah perspektif perusahaan secara masif dari cara konvensional yang bertumpu pola knowledge pushing.

Tengoklah Goldcorp Inc, sebuah perusahaan penambangan emas kelas kakap berbasis di Vancouver, Kanada. Pada awal tahun 2000 lalu dinyatakan memiliki neraca keuangan parah: Sisa aset US$100 juta dengan status menuju kebangkrutan.

Para petinggi Goldcorp lantas membuka database informasi mengenai 55 hektare lahan pertambangan miliknya. Data itu kemudian jadi bahan kontes ke publik tentang upaya menemukan titik penambangan baru potensial.

Maka, muncullah 1.000 masukan dari sekitar 50 negara yang bersumber dari ekologis, konsultan tambang, mahasiswa, dan lainnya. Ternyata, dari ribuan saran itu, ditemukan 110 titik penambangan baru yang strategis.

Spot itu selanjutnya digarap serius oleh awak perusahaan. Hasilnya memang efektif.

Aset Goldcrop, tak lama berselang, melonjak drastis ke angka US$9 miliar akibat derasnya aliran emas yang ditemukan (Sharing Vision, Juni 2008). 

Kisah bangkit dari keterpurukan atas jasa saran publik juga dialami raksasa consumer good asal Amerika Serikat, P&G. Setelah sempat terpuruk di bursa saham pada tahun 2000, perusahaan itu akhirnya membuka diri ke publik lewat situs.

Alhasil, 45% produk baru yang mereka hasilkan pada tahun lalu 2006 digagas oleh elemen luar. Pada tahun itu juga, portofolio merek mereka berkembang pesat jadi US$22 miliar atau naik dua kali lipat dibandingkan dengan era keterpurukan sebelumnya.

Pengalaman serupa dialami Jeff Bezos, pendiri www.amazon.com, yang awalnya mendirikan itu khusus untuk mengamankan database lintas sektor. Tak dinyana, situs itu memancing minat 240.000 orang untuk berpartisipasi di dalamnya, 55% di antaranya merupakan software developer.

Belakangan, situs ini kondang sebagai tempat jual beli terbesar di dunia virtual. Yang lebih ekstrem adalah pengalaman Mulhall, seorang pemuda yang tak punya pengalaman apa pun di bisnis minuman.

Kini, dia sudah memiliki 50.000 pelanggan minuman produksinya di lebih dari 46 negara. Bagaimana caranya? Mulhall memulai langkahnya dengan membangun sebuah situs jajak pendapat berisikan jenis minuman yang diinginkan.

Selanjutnya, dia mengundang 140 temannya mengunjungi situs tersebut.

Hasil survei selanjutnya dijadikan dasar keputusan baginya saat menjalin kerja sama dengan pembuat minuman berpengalaman.

Dengan sistem alih daya, produk kerja sama itu kembali ditawarkan ke publik melalui internet. Menariknya, konsumen yang memesan minuman itu, diberi kesempatan menentukan sendiri label minuman miliknya.

Jadi, semuanya berbasis ide masukan pengunjung situs yang notabene tidak kenal satu sama lainnya. Zaman memang telah berubah. Apabila industri pada era awal melulu andalkan kemampuan internal, kini pengetahuan eksternal justru menjadi tumpuan.

Membuka diri

Di sisi lain, eksplorasi pengetahuan dari berbagai bidang melalui dunia maya kian tak terelakkan. Sebab potensi pengetahuan ini luar biasa besar, bila mengingat satu otak memiliki 10 miliar lebih neuron dan 10.000 sinapsis.

Apalagi pada saat bersamaan, infrastruktur infokom yang mendukung adanya kolaborasi umat manusia sedunia juga dirasa kian murah. Misalnya, platform perangkat lunak terbuka seperti Mozilla Firefox yang saat ini sudah memiliki pengguna 80 juta. 

Keterjangkauan ini gilirannya mendorong tumbuh kembangnya budaya berbagi pengetahuan di Internet. Misalnya blog, yang berdasarkan penelusuran Bisnis, sekarang sudah dimiliki sedikitnya 10 juta di seluruh dunia.

Jumlah itu mencakup 50 juta komentar per detik yang diperbarui pada setiap harinya. Selain blog, contoh lainnya adalah wikipedia yang saat ini dilaporkan memiliki 5 juta pengakses per bulan dengan jumlah artikel (yang bisa dikolaborasi) 2 juta.

Dengan kian suburnya budaya berbagi pengetahuan di Internet ini, maka kecenderungan tipikal perusahaan yang sukses sekarang dan mendatang adalah mereka yang mau membuka diri sepenuhnya kepada sumber daya luar. Sudahkah Anda lakukan? (muhammad.sufyan@bisnis.co.id)

Oleh Muhammad Sufyan
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • Akses data jadi tren di Bali & Nusa Tenggara
  • Smartphone kuasai 10% pasar ponsel
  • Operator siap patuhi tarif batas bawah SMS
  • Telekomunikasi tumbuh 10%
    Insentif bea masuk kabel optik disiapkan