Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edis Harian » Teknologi Informasi


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Sabtu, 11/10/2008

Shock teraphy untuk gerombolan pencuri

Berbicara aksi kriminal di negeri ini, rasanya takkan ada habisnya. Bahkan, implikasi kerugian yang ditimbulkannya kian lama kian dahsyat. Contohnya pencurian kabel udara telepon saluran tetap milik PT Telkom Tbk Divisi Regional III Jabar-Banten. 

Hingga Juni lalu, di lima kantor daerah perusahaan itu, telah terjadi 1.307 peristiwa pencurian kabel dengan nilai kerugian sekitar Rp8,8 miliar. Jika satu kantor wilayah rugi Rp8 miliar lebih, kalikan saja berapa nilainya jika Telkom punya tujuh kantor wilayah.

Karena itu, pantaslah adanya jika apresiasi diberikan kepada figur yang berhasil menekan tingkat vandalisme pencurian kabel ini. Seperti yang dialami oleh Tatang Wiguna, seorang karyawan Telkom Kandatel Tasikmalaya.

Ya, pria 44 tahun ini belum lama ini baru saja dianugerahi penghargaan salah satu inovasi terbaik dari BUMN telekomunikasi itu untuk keberhasilannya menemukan alarm pencurian kabel udara.

Chief Operation Officer PT Telkom Tbk Ermady Dahlan mengungkapkan terobosan teknologi proteksi kabel sangat penting ditemukan selain pola lama kerja sama dengan aparat keamanan yang tak sepenuhnya efektif.

"Yang kami butuhkan adalah shock teraphy, agar gerombolan pencuri kabel tidak lagi leluasa mencuri aset negara. Pola lama dengan cara tembak di tempat oleh aparat juga sudah tidak pas," kata Ermady kepada Bisnis di Tasikmalaya, pekan lalu.

Cerita ini bermula dari kekesalan Tatang Wiguna saat masih berdinas di Kancatel Limbangan, Kabupaten Garut, Jawa Barat, terhadap ulah 'tikus' kabel. Betapa tidak. Dalam satu minggu, pencurian terjadi hingga belasan kali dengan lokasi kejadian tersebar.

"Akhirnya, waktu kami hanya tersita membereskan masalah jaringan akibat kabelnya dicuri. Tugas utama dalam memelihara jaringan telepon malah terbengkalai," sambungnya.

Maka, dia pun berusaha mencari cara mengeliminasi vandalisme itu. Ingatannya langsung tertuju pada alarm yang bisa memberi tanda kepada satuan keamanan (satpam) mana kala kabel udara di suatu tempat diputus.

Maka, dibuatlah enam sirkuit elektronik yaitu sirkuit telepon, sirkuit redial, sirkuit dekoder, sirkuit waktu, dan sirkuit alarm, yang tersambung ke dua komponen utama yakni line telepon dan power supply.

"Sirkuit itu kami pasang pada komponen MSOAN [Multi Services Optical Acces Network], sehingga setiap aksi pencurian terjadi, bisa langsung tersambung ke nomor telepon tertentu," kata pria ramah ini.

Selain tersambung ke telepon tertentu, bunyi alarm dan kilauan lampu LED kontinu dari lokasi spesifik juga akan terpantau di pos satpam. Karenanya, aksi penangkapan sang pencuri bisa segera dilancarkan. 

Lebih murah

Pada awalnya, konsep alarm ini menggunakan tipologi radio (wireless). Jadi, ponsel petugas keamanan akan berbunyi mana kala pencurian terjadi. Akan tetapi, biaya yang dibutuhkan lebih dari Rp1 juta.

Kelemahan lainnya adalah adanya kemungkinan alarm tidak akan berguna apabila ponsel petugas sedang tidak aktif. Maka, dia mengubahnya dengan menggunakan skema telepon tetap (wireline) yang memiliki kemungkinan ketersambungan lebih pasti plus biaya terjangkau.

Tatang mengungkapkan biaya dasar dari alarm MSOAN versi dua yang dikembangkannya hanya Rp800.000 yakni untuk membuat satu kotak alarm Rp150.000 dan pembelian alat komponen Rp650.000.

Berbekal loyalitas, biaya pembuatan perangkat elektronik alarm itu semula berasal dari kantongnya sendiri. Seluruh proses uji coba pembuatan sendiri dilakukan di laboratorium jaringan di kantornya.

Hasilnya ternyata efektif. Pencurian kabel udara di lokasi yang dipasangi alarm karya Tatang itu berhasil menurunkan aksi pencurian 37% dengan tingkat keberhasilan menekan potensi kehilangan pendapatan sebesar 91%.

"Sebelum dipasang di wilayah kami, ada 54 pencurian dengan potensi kehilangan pendapatan Rp52,29 juta. Setelah dipasang, pencurian tinggal 34 kali dengan potensi kehilangan pendapatan Rp4,6 juta," katanya.

Tak ayal, alarm buatannya kini sudah 'menjelajah' ke berbagai kantor wilayah Telkom Divre III. Kini, inovasi Tatang sudah dipasang sedikitnya di 94 lokasi di Tasikmalaya, Bandung, Rancaekek, Cikalong Wetan, Sukabumi, hingga Jampang Kulon. (muhammad.sufyan@ bisnis.co.id)

Oleh Muhammad Sufyan
Wartawan Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • AKSES
    Lonjakan trafik XL 400%
  • Akses data jadi tren di Bali & Nusa Tenggara
  • Smartphone kuasai 10% pasar ponsel
  • Operator siap patuhi tarif batas bawah SMS