Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edis Harian » Teknologi Informasi
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Jumat, 21/11/2008
Omzet diler komputer turun 30%
JAKARTA: Omzet penjualan komputer di Indonesia anjlok 30% karena terpengaruh nilai rupiah yang merosot dan belum stabil terhadap dolar.
Budi Wahyu Jati, Country Manager Intel Indonesia, mengungkapkan hal tersebut dari hasil pemantauannya terhadap kegiatan penjualan di tingkat diler.
"Dari perbincangan dengan para diler komputer, omzet toko mereka menurun 30%. Ini termasuk penjualan komputer dan aksesori," ujarnya seusai acara peluncuran prosesor Intel terbaru Intel Core i7, kemarin.
Dia menilai sebenarnya minat konsumen terhadap produk-produk elektronik dan komputer masih ada, tetapi calon pembeli enggan mengeluarkan uang pada nilai tukar yang dianggap terlalu tinggi.
"Demand-nya ada, tapi turun karena wait and see. Toko-toko bilang penjualannya turun, karena masalah harganya naik. Orang yang beli kalau harganya seperti dulu dia akan beli sekarang," tuturnya.
Budi juga menjelaskan bahwa ketidakstabilan nilai tukar dolar AS saat ini juga cukup menyulitkan distributor dan penjual.
Distributor menjual barang ke toko. Toko ini ingin membeli dengan dolar yang dipatok, karena mereka bingung dengan fluktuasi kurs dolar yang berubah-ubah setiap hari.
"Misalnya saja hari ini kursnya Rp11.000, namun besok mesti bayar 12.000," ujarnya.
Budi mengakui secara finansial toko komputer tidak rugi, tetapi mereka mengharapkan agar diler mematok kurs dolar AS.
Adapun toko komputer menjual ke konsumen dengan mematok kurs sendiri, yang mereka buat aman dengan mematok kurs teratas.
"Misalnya jika sekarang swing-nya Rp11.000 sampai Rp12.000 per dolar AS, pedagang mematok kurs Rp12.000. Pembeli kemudian melihat kurs Rp12.000 dan bilang tunggu dululah," katanya.
Budi memperkirakan keadaan akan lebih baik bila nilai dolar nantinya mencapai kestabilan, seperti bulan-bulan sebelumnya yang berkisar antara Rp9.300 dan Rp9.500 per dolar AS.
"Kalau dalam 2-3 bulan kemudian nanti kurs dolar sudah tinggi, mau diapakan lagi. Dolarnya memang segitu. Sekarang dolarnya masih lompat-lompat, masih banyak yang memerlukan dolar," katanya.
Revisi target
Kebijakan fixed rate atau pematokan kurs dolar AS terbukti mampu mendongkrak omzet penjualan. Misalnya saja kebijakan subsidi kurs yang dilakukan para diler komputer selama pameran Indocomtech 2008.
Menurut data PT Dyandra Promosindo, penyelenggara pameran, nilai transaksi pada pameran komputer yang digelar 12-16 November itu meningkat 30% dibandingkan dengan traksaksi Indocomtech 2007 yang mencapai Rp150 miliar. (Bisnis, 19 November 2008)
Yang jelas, krisis keuangan global juga berdampak terhadap target penjualan para vendor komponen komputer, termasuk Intel.
Secara umum krisis keuangan global turut berpengaruh pada Intel, meskipun tidak terlalu parah. Dalam siaran persnya baru-baru ini, Intel baru-baru ini menurunkan prediksi pendapatan yang berkisar US$10,1 miliar - US$10,9 miliar untuk kuartal IV 2008 menjadi US$8,7 miliar - US$9,3 miliar.
Budi juga mengatakan Intel sendiri saat ini memegang cash on hand (dana segar) US$ 12 miliar. "Oleh karena itu, kami tidak memerlukan utang dari bank atau pihak pembiayaan."
Dia menuturkan bahwa sejak 2 tahun lalu, sebenarnya Intel sudah mulai melakukan program efisiensi. Misalnya, karyawan tidak boleh melakukan perjalanan dengan tiket pesawat kelas bisnis.
"Kelihatannya simpel tapi cukup membantu. Di Indonesia program penghematan ongkos ini cukup membantu memotong 30%-40% biaya operasional," katanya. (k8) (redaksi @bisnis.co.id)
Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- AKSES
India tunda nomor portabel - AKSES
Wikipedia galang sumbangan - AKSES
IBM akuisisi ILOG - E-STRATEGY
Berbagi infrastruktur TI perusahaan - 'UC mengarah ke unified workplace'