Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Umum
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Sabtu, 17/05/2008
'Indonesia masih dihambat oleh oligarki'
JAKARTA: Sejak dihantam krisis satu dekade lalu, perekonomian Indonesia belum seluruhnya pulih. Kondisi sosial dan politik ikut berperan dalam menentukan seberapa cepat pemulihan itu berlangsung. Untuk mengetahui hal itu lebih jauh, Jeffrey Winters, profesor ekonomi politik di Northwestern University, Chicago, AS, memberikan jawaban atas pertanyaan dari Bisnis yang disampaikan lewat e-mail. Berikut petikannya:
Bagaimana Anda melihat perekonomian Indonesia saat ini setelah dihantam krisis satu dekade lalu?
Semua peneliti perekonomian Indonesia yang objektif akan mengatakan hal yang sama: Prestasi ekonomi Indonesia sangat lemah. Dari sisi investasi, produksi, lapangan kerja, dan kesehatan sistim finansial, Indonesia berprestasi rendah. Laju pertumbuhan yang rata-rata di bawah 5% selama dekade lalu tidak cukup untuk berjalan di tempat, apalagi mau melangkah cepat. Singkatnya, Indonesia semakin tertinggal.
Perubahan drastis apa yang bisa Anda catat?
Perubahan paling drastis jelas terjadi di bidang kebebasan politik, termasuk kebebasan berekpresi, berkelompok, berpartisipasi, dan berpikir. Sebelum Soeharto jatuh, Indonesia dikontrol dengan tangan besi dan korbannya banyak. Walaupun sistim demokrasi di Indonesia jauh dari ideal, semua pihak harus mengakui bahwa Indonesia mengalami perubahan radikal di bidang politik dan kebebasan, dan perubahan tersebut sangat penting untuk masa depan rakyatnya.
Setelah kejatuhan Soeharto pada 1998, panggung politik Indonesia bergerak sangat dinamis menuju format baru yang lebih demokratis. Apakah kecepatan gerak ini juga diikuti di bidang ekonomi?
Sama sekali tidak. Namun, pertanyaan yang harus dijawab adalah mengapa? Saya hampir selesai menulis buku baru berjudul Oligarki. Ini hasil penelitian lebih dari enam tahun. Indonesia menjadi salah satu kasus yang penting dalam buku tersebut justru karena prestasinya di sektor politik dan sektor ekonomi tidak jalan sejajar. Ini cukup misterius. Ada yang menyalahkan demokrasi. Mereka berpikir bahwa Indonesia punya demokrasi yang kebanyakan dan berlebihan. Saya tidak setuju sama sekali. Yang kurang di Indonesia adalah kekuatan hukum dan sistem hukum tidak identik dengan sistem politik.
Soeharto berkuasa di Indonesia ala Godfather. Selama dia berkuasa laju pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 7% per tahun.
Namun, begitu Godfather tidak ada, apa atau siapa yang akan membuat sistim hukum kuat dan berfungsi seperti seharusnya? Demokrasi adalah 'cara' untuk memilih figur pemerintahan. Titik. Demokrasi sebagai prosedur politik tidak sama dengan sistem hukum.
Buktinya lihat Singapura. Tidak demokratis tetapi sistem hukumnya kuat. Bagaimana solusinya? Untuk mayoritas rakyat Indonesia, sistem hukum jalan. Aparatus hukum di Indonesia gagal justru kalau menghadapi kelompok kecil yang biasa disebut oligarki.
Tahun depan pemilihan umum digelar. Anda punya penilaian terhadap kinerja SBY-JK?
Belum tentu SBY-JK akan menjadi duet kan?
Isu politik dan ekonomi apa yang Anda perkirakan mengemuka dan menjadi tema sentral dari kandidat presiden kelak?
Cukup banyak orang frustrasi dengan SBY karena dia sangat cerdas, pandai ngomong, dan cukup baik hati, namun sama sekali tidak bisa ambil keputusan dan bertindak. Jadi, saya perkirakan bahwa salah satu isu yang akan menjadi tema sentral adalah perbedaan antara kandidat yang tegas dan kandidat yang ragu-ragu. Figur yang tegas dan berani bertindak tidak identik dengan menjadi diktator atau don mafia seperti Suharto. Indonesia sangat membutuhkan pemimpin yang punya leadership.
Di pemerintahan mendatang (2009-2014), agenda politik dan ekonomi apa yang perlu menjadi fokus Indonesia?
Menjinakkan oligarki. Memperkuat aparatus dan institusi hukum. Memaksa semua orang kuat untuk tunduk kepada hukum. Kalau Indonesia berhasil dengan membangun sistem institusionil yang lebih kuat daripada figur tertentu, tidak pandang bulu, tidak melihat kelompok atau partai atau koneksi, dan tidak bisa didistorsikan dengan uang maka Indonesia akan sekaligus membangun basis kuat untuk ekonomi dan politik di masa depan.
Pewawancara: Inria Zulfikar
Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- KRONIKA
KPK perlu sadap panitia angket BBM - KRONIKA
Wapres: Kasus Munir sulit diselesaikan - Kaban bantah terima Rp1 miliar
- Obama & McCain pun kampanye lewat e-mail
- 'Depdiknas belum mampu kelola 20% APBN'