Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Umum
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Rabu, 20/08/2008
Nuklir Pakistan tak terpengaruh lengsernya Musharraf
ISLAMABAD: Turunnya Pervez Musharraf dari kursi kepresidenan diperkirakan tidak akan memberikan dampak yang signifikan terhadap cara pengendalian senjata nuklir Pakistan.
Sejumlah pakar mengatakan sebuah komite beranggotakan 10 orang, dan bukan hanya presiden, yang membuat keputusan mengenai penggunaan senjata nuklir dan hanya keruntuhan pemerintahan secara keseluruhan saja-yang masih kemungkinan kecil terjadi di Pakistan-yang dapat meletakkan bom atom di tangan kaum ekstremis.
"Aset-aset nuklir Pakistan bukan properti satu orang saja," kata Maria Sultan, seorang analis pertahanan dan direktur di South Asian Strategic Stability Institute yang berbasis di London, kemarin.
"Transisi [politik] apa pun di Pakistan tidak akan memberi efek apa pun terhadap aset-aset nuklir Pakistan karena mereka memiliki kendali kustodial yang sangat kuat."
Komite yang bernama National Command Authority tersebut dijalankan oleh sebuah organisasi yang didominasi militer dengan ribuan aparat keamanan dan agen intelijen yang personelnya disaring secara ketat, sementara fasilitas nuklir dijaga secara ketat.
"Realitasnya adalah bahwa pemerintah Pakistan eksis di berbagai tingkatan yang berbeda. Salah satu tingkatan mengendalikan senjata nuklirnya," kata Patrick Cronin, direktur Institute for National Strategic Studies di National Defense University, Washington.
Kekuatan pertama
Kendati merupakan salah satu negara miskin di Asia, Pakistan menjadi kekuatan atomik pertama di dunia Islam melalui kombinasi dari akal muslihat, keteguhan, dan pembelian teknologi ilegal di pasar gelap internasional.
Negara tersebut melakukan uji coba bom atom pada tahun 1998, satu tahun sebelum Musharraf mengambil alih kekuasaan, sebagai respons terhadap uji coba serupa yang dilakukan rivalnya, India.
Prospek akan terjadinya lautan nuklir di sub-benua tersebut menyurut dalam beberapa tahun terakhir setelah Pakistan dan India terlibat pembicaraan perdamaian.
Akan tetapi, guncangan politik di Pakistan, ditambah dengan penyingkapan pada tahun 2004 bahwa ilmuwan utamanya, Abdul Qadeer Khan, telah berbagi pengetahuan nuklir dan teknologi dengan Iran, Korea Utara, dan Libia, memperbesar kekhawatiran mengenai keamanan infrastruktur senjata dan nuklir tersebut.
Kekhawatiran tersebut masih bertahan saat kaum militan Al-Qaeda dan Taliban memperkokoh keberadaannya di sepanjang perbatasan barat laut dengan Afghanistan. Pakistan juga berjuang untuk menampik kecurigaan bahwa sejumlah unsur di badan intelijennya memiliki rasa simpati terhadap kaum ekstremis. (t01/m02)
AP/JBBI
bisnis.com
Berita Lain
- KRONIKA
FPG: Segera relokasi warga - KRONIKA
Haram merokok dipersoalkan - KRONIKA
Obama & Bush bertemu lagi - Menag akui terima tunjangan Dana Abadi Umat
- Antony divonis 4,5 tahun, Hamka 3 tahun