Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Umum


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Sabtu, 30/08/2008

Menjelang Pilpres AS
Duet Obama-Biden resmi dikukuhkan

"Apa yang terjadi malam ini tidak akan mungkin terjadi 40 tahun lalu-atau bahkan empat tahun lalu. Dan ini semua  tidak akan mungkin terjadi tanpa peran Anda."

Begitu pembukaan dari e-mail (surat elektronik) Barack Obama yang dikirimkan ke para pendukungnya seusai berpidato pada sesi terakhir Konvensi Nasional Partai Demokrat di Denver, Colorado, kemarin.

Tak berbeda dengan pidato Michelle Obama-istri kandidat capres dari Partai Demokrat itu-yang disampaikan pada hari pertama konvensi, pidato Barack Obama kemarin juga mendapat banyak simpati publik.

Namun, dia juga menyadari kalau perjuangan menuju ke Gedung Putih masih panjang, meski tanggal pemilu semakin dekat.

"Tonight is your night. But tonight is just the beginning," lanjutnya dalam e-mail tersebut.

Pidato kesediaan Obama untuk maju sebagai kandidat presiden dari Partai Demokrat tersebut memang menyedot perhatian dunia. Kedubes AS di Jakarta pun sampai menggelar acara nonton bareng. Penontonnya adalah wartawan dan sebagian diplomat AS.

Tanggapan warga AS sendiri atas pidato itu tentu beragam, bergantung pada seberapa 'Demokrat' atau 'Republikan' orang yang kita mintai pendapatnya.

Bagi yang mendukung, mereka umumnya menganggap pidato Obama menjawab langsung ke pokok persoalan yang sedang dihadapi warga AS, secara konkret.

Misalnya ketika Obama menyodorkan misi meningkatkan pendapatan penduduk hingga dapat membayar cicilan rumah, atau dalam concern-nya yang lebih memilih mendorong agar setiap warga Amerika bisa memulai usaha daripada mengukur kesuksesan ekonomi dari jumlah pengusaha AS yang masuk dalam daftar Fortune 500.

Bagi pendukung Republikan, meski juga terinspirasi, boleh jadi tanggapan atas pidato Obama yang disampaikan bertepatan dengan 45 tahun pidato bersejarah Martin Luther King di Washington DC itu, akan berbeda.

Respons McCain

John McCain sendiri yang saat Obama berpidato sedang berada di Arlington, Virginia, langsung memberikan responsnya. Dia menuding banyak misleading dalam pidato Obama.

Misalnya, soal ajakan Obama agar Demokrat dan Republikan bersatu. Menurut McCain, Obama selama ini tidak mempunyai jejak rekam sebagai bipartisan. Obama disebutkannya masih menentang pengeboran minyak di laut lepas, masih memilih menaikkan pajak. Pada intinya, McCain mengatakan Obama masih tidak siap menjadi presiden.

Tentu saja, masing-masing kandidat masih akan terus saling serang. Keduanya memiliki kesempatan untuk meyakinkan publik AS melalui tiga forum debat resmi yang sudah diagendakan.

Awal pekan depan, giliran Partai Republik yang akan menggelar konvensi nasional. Bagaimana hasil konvensi itu tentu akan menentukan seberapa besar suara akan mengalir, ke Obama-Joe Biden atau McCain yang kabarnya akan mengumumkan pasangannya pekan ini.

Kemarin McCain mengumumkan kandidat wapresnya yaitu Sarah Palin, Gubernur Alaska, yang berasal dari Partai Republikan. Dia mengatakan Palin adalah sosok yang memiliki prinsip kuat serta semangat tinggi untuk berjuang.

Satu hal pasti, konvensi Partai Demokrat atau Partai Republik menjadi hajatan penting dalam prosesi menjelang pilpres di Negeri Paman Sam tersebut. Seperti yang baru saja usai digelar oleh Partai Demokrat di Denver, Colorado, konvensi diwarnai pesta, parade pidato, kegembiraan dan sekaligus keharuan.

Itulah gaya negeri yang mengklaim sebagai kampiun demokrasi tersebut merayakan dan mengukuhkan kandidat capresnya. November nanti adalah penentuan siapa yang akan menjadi pengganti George W. Bush untuk 'bertahta' di Gedung Putih empat tahun tahun ke depan. Bisa Obama, bisa McCain. (Tomy Sasangka) (tri.dp@bisnis.co.id)

Oleh Tri D. Pamenan
Wartawan Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • KPU: Tahapan pilpres tak akan mundur
  • KPK kaji dugaan penyelewengan Dana Abadi Umat
  • Mayoritas korban tewas di Gaza warga sipil
    RI belum kirim pasukan perdamaian
  • Korban gempa dapat bantuan