Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Umum
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Sabtu, 06/09/2008
Bila McCain tawarkan kebanggaan menjadi Amerika
Kalau Senator Barack Obama mengusung isu 'Change' saat menerima pencalonannya dalam Konvensi Nasional Partai Demokrat, kemarin John McCain menawarkan semangat patriotisme, kebanggaan menjadi orang Amerika Serikat (AS) dalam pidatonya di Konvensi Nasional Partai Republik.
Dalam pidato yang berlangsung pada malam 4 November di St. Paul, Minneapolis (Jumat pukul 09.00 di Jakarta) yang disiarkan langsung oleh stasiun televisi CNN, McCain berupaya membangun semangat 'fight' untuk membawa AS keluar dari krisis.
Tentu saja, latar belakang McCain sebagai militer sejati, menjadi tawanan perang di Vietnam, berayah dan kakek seorang laksamana angkatan laut, tak bisa dipisahkan dari karakter patriotnya yang dia tawarkan untuk meraih kursi di Gedung Putih.
Dalam isu Irak, sejak awal posisi McCain memang tak berbeda dengan George W. Bush. Dibanding Obama yang berjanji akan segera menarik pasukan AS, posisi McCain tersebut memang menyebabkan popularitasnya turun.
"Saya lebih memilih kalah dalam pemilu daripada negeri kita harus kalah perang," ujarnya.
Ketika dia meminta konvensi dijadwal ulang karena ancaman badai Gustav, McCain sudah tampak berupaya mengirimkan pesan bahwa bagi dirinya, negara lebih penting daripada sekadar pesta partai.
Dia paham kalau hampir semua warga AS menuding Washington DC sebagai biang keladi atas krisis ekonomi dan krisis energi yang terjadi di negeri itu. Namun, McCain tidak menyerang George Bush, meski dia juga berupaya membangun jarak dengan presiden dari Partai Republik tersebut.
Karena itu, yang dia tawarkan adalah reformasi di tubuh pemerintahan dan ajakan untuk berjuang dalam menghadapi krisis. "Dalam hidup saya, tidak ada kesuksesan yang bisa dicapai tanpa perjuangan."
Serang Obama
Sebagaimana yang sudah dilakukannya sejak awal masa kampanye, dan sehari sebelumnya dilakukan pula oleh Kandidat Wakil Presiden Sarah Palin, pidato McCain kemarin juga berupaya menjatuhkan Barack Obama dengan memosisikan bahwa kandidat dari Demokrat itu tak punya pengalaman memadai untuk menjadi Presiden AS.
Menurut McCain, sebagaimana dirinya, sebagai Gubernur Alaska Sarah Palin juga su-dah terbukti berpengalaman, memiliki 'real record', andal untuk membenahi berbagai permasalahan riil, seperti masalah energi atau korupsi.
McCain berjanji akan memulihkan kepercayaan masyarakat dengan kembali berdiri tegak untuk menjunjung values sebagai orang Amerika. "Kita semua adalah anak-anak Tuhan, dan kita semua adalah orang Amerika."
Selebihnya, McCain lebih banyak membalikkan pidato Obama. Dia berjanji akan mempertahankan pajak, sementara Obama justru akan menaikkannya. Dia akan membuka pasar baru, sementara Obama akan menutupnya. McCain akan memangkas belanja pemerintah, sementara Obama akan menaikkannya.
"Pemangkasan pajak yang saya tawarkan akan menciptakan lapangan kerja baru, kebijakan Obama meningkatkan pajak justru akan mengurangi lapangan kerja."
McCain menyinggung rencana kerja di berbagai sektor, mulai dari pendidikan, birokrasi, hingga kebijakan luar negeri.
McCain akan menghentikan bantuan US$700 miliar per tahun ke negara-negara yang tidak menyukai AS, dan akan menggunakannya untuk mendanai proyek nasional di Negeri Paman Sam itu.
Dalam kebijakan di bidang energi, McCain menyerang Obama yang berjanji tidak akan menggunakan energi nuklir dan menghentikan pengeboran minyak. McCain justru akan memanfaatkan semua sumber energi yang ada, termasuk energi nuklir, dan melakukan pengeboran minyak sesegera mungkin.
McCain mengingatkan Al Qaeda masih akan menjadi ancaman sangat serius bagi AS, begitu juga Iran yang ditudingnya sebagai sponsor utama aksi terorisme. Maka dia berjanji akan berada di depan dan siap 'fight' untuk menghadapi berbagai ancaman global bagi AS.
Menipis
Sejauh ini berbagai polling menunjukkan jarak antara McCain dengan Obama terus menipis. Kalau melihat tren, tim kampanye Obama tampaknya harus bekerja keras jika ingin mewujudkan mimpi menjadikan presiden AS pertama dari warga keturunan kulit hitam.
Menurut Tristam Perry, diplomat dari Kedubes AS di Jakarta, dari pengalaman yang sudah-sudah, kandidat Demokrat seringkali unggul dalam polling di awal putaran, tetapi merosot di akhir musim kampanye.
Namun, kalau melihat siklusnya, seharusnya tahun ini giliran kubu Demokrat yang mengambil alih kendali. Sebagai gambaran, dari 1961-1969 Demokrat berada di gedung putih melalui John F. Kennedy yang digantikan oleh Lyndon B. Johnson.
Periode berikutnya giliran presiden dari Republik, mulai dari Richard Nixon hingga Gerald Ford. Selanjutnya Demokrat kembali mengambil alih melalui Jimmy Carter yang kemudian digantikan lagi oleh Republik. Terakhir, Demokrat melalui Bill Clinton dua musim memimpin sebelum George W. Bush dari Republik, juga dalam dua periode. (tri.dp@bisnis.co.id)
Oleh Tri D. Pamenan
Wartawan Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- KRONIKA
Agenda pilkada serentak dimatangkan - KRONIKA
Jaksa Agung AS berkulit hitam - KRONIKA
Slamet Hidayat dituntut 5 tahun - Anwar bantah inginkan jabatan gubernur BI
- KPK telusuri obligasi rekapitalisasi