Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Umum


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Sabtu, 11/10/2008

Ahtisaari raih Nobel Perdamaian 2008

OSLO:  Mantan Presiden Finlandia Martti Ahtisaari menerima Hadiah Nobel Perdamaian kemarin berkat upayanya untuk membentuk perdamaian yang bertahan lama mulai dari Afrika dan Asia hingga Eropa dan Timur Tengah.

"Panitia Nobel Norwegia telah memutuskan untuk memberikan Hadiah Nobel Perdamaian 2008 kepada Martti Ahtisaari atas upaya-upayanya yang penting di berbagai benua selama lebih dari tiga dekade untuk menyelesaikan konflik internasional. Upaya ini telah memberi kontribusi ke dunia yang lebih damai dan 'persaudaraan antarbangsa' sesuai dengan semangat Alfred Nobel," panitia menyatakan saat mengumumkan hadiah tersebut.

Dengan memilih pria berusia 71 tahun itu, Komite Nobel kembali memfokuskan pada upaya perdamaian tradisional setelah memilih pengkampanye iklim Al Gore dan panel PBB untuk perubahan iklim, tahun lalu.

Panitia beranggotakan lima orang yang dirahasiakan tersebut mengatakan hasil kerja Ahtisaari di seluruh dunia-Afrika, Eropa, Asia, dan Timur Tengah membuktikan bahwa upaya-upaya seperti itu bisa memberikan efek yang mendalam pada proses perdamaian.

"Melalui  upayanya yang tanpa lelah dan hasil yang baik, dia telah memperlihatkan peranan apa yang dapat dimainkan mediasi dari beragam jenis dalam penyelesaian konflik internasional," panitia menyatakan saat mengumumkan hadiah senilai 10 juta kronor (US$1,4 juta).

"Selama 20 tahun terakhir, dia telah menjadi figur terkenal dalam berbagai upaya untuk menyelesaikan beberapa konflik serius dan berkepanjangan," pengumuman tersebut mengungkapkan, dengan menyinggung hasil kerjanya dalam berbagai konflik mulai dari Namibia dan Aceh (Indonesia), hingga Kosovo dan Irak.

Ahtisaari telah tercatat sebagai calon kandidat Hadiah Nobel Perdamaian sejak 2005 setelah dia menegosiasikan akhir dari suatu konflik yang berawal lebih dari 30 tahun lalu dengan menyatukan Pemerintah Indonesia dan para pemimpin Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Aceh.

"Dia juga telah membuat berbagai kontribusi membangun pada resolusi konflik di Irlandia Utara, Asia Tengah, dan Afrika," pengumuman tersebut menyebutkan.

Sangat senang

Berbicara kepada NRK Norwegian TV, Ahtisaari mengatakan "dia sangat senang dan berterima kasih" karena menerima hadiah tersebut.

Ketika ditanya pekerjaan mana yang dianggapnya paling penting, Ahtisaari, warga Finlandia pertama yang memenangi hadiah tersebut, mengatakan bahwa "tentu saja Namibia mutlak merupakan yang terpenting karena membutuhkan waktu yang begitu lama." Dia juga menyebut kerjanya di Kosovo dan Aceh.

Di Jakarta, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyambut baik pemberian Hadiah Nobel Perdamaian kepada Martti Ahtisaari yang punya peran nyata dalam proses perdamaian di Aceh.

Juru Bicara Presiden Dino Patti Djalal mengatakan Presiden mengucapkan selamat kepada sahabatnya itu begitu mengetahui Martti memperoleh penghargaan tersebut.

Ahtisaari merupakan seorang diplomat senior Finlandia ketika pada 1977 diangkat sebagai duta besar PBB untuk Namibia, pada saat kaum pemberontak melawan pemerintahan aparteid Afrika Selatan.

Dia kemudian diangkat menjadi wakil sekretaris jenderal, dan pada 1988 ditugaskan ke Namibia untuk memimpin 8.000 pasukan perdamaian PBB dalam transisi menuju kemerdekaan.

Ahtisaari berharap hadiah tersebut akan mempermudah penggalangan dana untuk kerjanya di bidang perdamaian.

"Selalu ada banyak kemungkinan. Saya benar-benar berharap sekarang setelah saya menerima hadiah tersebut bahkan akan lebih mudah untuk membiayai organisasi yang saya pimpin," katanya. "Sangat penting untuk dapat bertindak tepat, Anda membutuhkan pembiayaan dan itu tidak pernah cukup."

Ahtisaari pernah menjalani karier panjang di politik dan upaya perdamaian. Sebagai seorang guru sekolah dasar yang bergabung dengan Kementerian Luar Negeri Finlandia pada 1965, dia menghabiskan waktu 20 tahun di luar negeri, pertama sebagai duta besar untuk Tanzania, dan kemudian untuk ke PBB di New York.

Dia menjabat wakil sekretaris PBB untuk pemerintahan dan manajemen mulai tahun 1987-1991, memimpin operasi PBB yang membawa kemerdekaan bagi Namibia pada 1990.

Pada 1994, Ahtisaari menerima pencalonannya sebagai presiden Partai Demokratik Sosial Finlandia dan menang. Dia tidak mencalonkan kembali pada 2000 dan sejak itu berpartisipasi dalam berbagai upaya perdamaian internasional.

Pada 2007, kantor Ahtisaari Crisis Management Initiative mulai menggelar berbagai pertemuan rahasia di Finlandia antara kelompok Suni dan Syiah di Irak untuk menyepakati peta perdamaian.

Pembicaraan yang didasarkan pada format upaya perdamaian di Afrika Selatan dan Irlandia Utara itu melibatkan 16 delegasi dari kedua grup yang bersengketa. Mereka "sepakat untuk berkonsultasi lebih lanjut" dalam sederet rekomendasi untuk memulai pembicaraan rekonsiliasi, termasuk menyelesaikan sengketa politik melalui nonkekerasan dan demokrasi.

Pada Agustus 2005, Ahtisaari membantu mengakhiri 30 tahun pertikaian antara kelompok pemberontak GAM di Aceh dan Pemerintah Indonesia melalui pembicaraan damai di Finlandia, yang diprakarsai dan ditengahinya bersama Crisis Management Initiative. Perjanjian damai, yang ditandatangani di Helsinki, dilakukan menyusul tujuh bulan negosiasi antar kedua pihak, yang juga diprakarsai dan ditengahinya. (t01/if/Irsad Sati)

AP/JBBI

bisnis.com

Berita Lain

  • KPU: Tahapan pilpres tak akan mundur
  • KPK kaji dugaan penyelewengan Dana Abadi Umat
  • Mayoritas korban tewas di Gaza warga sipil
    RI belum kirim pasukan perdamaian
  • Korban gempa dapat bantuan