Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Agribisnis


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Minggu, 20/07/2008

Bonus istimewa

oleh :

Siapa yang tidak senang menerima bonus prestasi dari perusahaan. Apalagi apabila jumlahnya menggiurkan sehingga bisa digunakan untuk membeli barang-barang yang dari segi harga rasanya sulit dijangkau jika hanya merogoh gaji.

Selain mengacu pada peraturan tertentu, misalnya ketenagakerjaan dan ketentuan terkait lainnya, perusahaan berharap bonus tersebut bisa membuat senang karyawan karena itu merupakan salah satu bentuk reward. Berapa besar bonus yang dibayarkan sangat bergantung pada aturan main di setiap perusahaan.

Malah tidak sedikit perusahaan yang memberikan bonus bukan dalam bentuk uang tunai, tetapi dalam wujud lain, misalnya berwisata ke luar negeri bersama keluarga atau kendaraan bermotor. Yang jelas, ada bonus, ada pengeluaran (belanja) mesti tidak berlaku mutlak.

Dari riset yang dilakukan Michael I. Norton dan Elizabeth W. Dunn baru-baru ini yang garis besarnya dipublikasikan melalui tulisan berjudul Help employees give away some of that bonus (2008) terungkap bahwa bonus ternyata lebih banyak dimanfaatkan untuk 'sesuatu yang bisa membawa kebahagiaan'.

 Cukup mengherankan juga karena bonus yang dihabiskan hanya untuk memuaskan 'kebutuhan duniawi' seperti membeli pesawat televisi model terbaru, peralatan telekomunikasi canggih, hingga iPod sekalipun tidak membuat seseorang bahagia.

Sebaliknya, secara kejiwaan mereka akan merasa jauh lebih bahagia apabila bonus tersebut dibelanjakan untuk hal-hal yang bermanfaat bagi banyak orang (windfall on others).

Di Amerika, 'suasana kebatinan' semacam ini mulai tumbuh di kalangan karyawan. Mereka seolah bosan dengan bonus yang tidak pernah berubah selain dalam bentuk uang tunai.

Terbayangkah perasaan yang sama akan muncul di perusahaan-perusahaan Indonesia? Dengan mudah kita menjawab: "Haree gene ada yang nolak duit...? Mimpi kali yee..."

Pemberian reward

Karena para karyawan di Amerika menginginkan bonus dalam bentuk lain, perusahaan pun tertantang untuk merancang pemberian reward yang tidak kalah menantang pula.

Bentuk finalnya memang belum tampak mengerucut, tetapi arah yang dituju sudah jelas, yaitu perusahaan ingin terus memacu potensi karyawan melalui pemberian bonus yang bisa dijadikan media untuk berbagi dengan sesama.

Semangat ini oleh Norton dan Dunn disebut tempat kerja yang prososial (prosocial workplace). Konsep ini lahir setelah kedua psikolog tersebut melakukan riset melalui tiga cara. Pertama, survei terhadap sedikitnya 600 warga AS membuktikan bahwa semakin banyak uang yang dimanfaatkan untuk tujuan 'prososial', mereka merasa hidupnya lebih bahagia dan berarti.

Kedua, eksperimen terhadap 16 karyawan dari sebuah perusahaan yang berbasis di Boston untuk mengukur tingkat kebahagiaan mereka sebelum menerima bonus bagi hasil sebesar US$3.000-US$8.000. Eksperimen berikutnya dilakukan setelah enam hingga delapan minggu bonus diterima.

Kemudian diperoleh fakta bahwa karyawan yang membelanjakan bonusnya untuk 'berbagi' dengan orang lain jumlahnya lima kali lebih banyak dibanding mereka yang 'egois'. Hal yang tidak kalah penting adalah besar kecilnya bonus tidak memengaruhi komitmen mereka untuk 'berbagi kebahagiaan'.

Ketiga, untuk mengungkap apakah pengeluaran prososial tersebut (prosocial spending) benar-benar membuat seseorang bahagia, sebanyak 46 sukarelawan diberikan US$5 hingga US$20 pada suatu pagi. Mereka dibagi secara acak berdasarkan kelompok yang membelanjakan setengahnya untuk kepentingan pribadi dan mereka yang berbagi dengan orang lain.

Apa yang terjadi? Ternyata, mereka yang menghabiskan uangnya untuk berbagi kebahagiaan merasa lebih senang pada malam harinya, tidak peduli berapa besar uang yang dihabiskan untuk kegiatan prososial semacam itu.

Kalau dalam kehidupan sehari-hari kita mengenal istilah 'UUD' (ujung-ujungnya duit) atau 'uang memang bukan segala-galanya, tetapi segala-galanya perlu uang', di negara yang menganggap dirinya sebagai pengusung utama kapitalisme justru bersemi subur fenomena lain: Anda bisa berbagai kebahagiaan hanya dengan modal US$5.

Penulis lalu teringat cerita seorang kawan ketika dia memberikan Rp1.000 kepada petugas parkir dengan wajah penuh empati dan sikap bersahabat. Tanpa disangka kawan tadi mendapat pelayanan 'first class' di areal parkir yang sudah dipadati mobil.

Petugas parkir yang bertampang sangar, menurut dia, menuntun mobilnya menuju tampat parkir yang masih kosong. Tidak hanya itu, kawan tadi juga bercerita bahwa petugas tersebut juga membukakan pintu mobilnya. Semua interaksi yang sangat manusiawi ini hanya 'bermodal' Rp1.000.

Tidak sulit, bukan?

Sepintas prosocial spending ini mirip-mirip dengan apa yang kini populer dengan istilah corporate social responsibility (CSR). Bedanya, si pelaku bukan korporasi, melainkan karyawan.

Apabila demikian, apakah bonus membuat Anda bahagia?

bisnis.com

Berita Lain

  • 'Hati-hati naikkan harga beli beras dan gabah'
  • Benahi irigasi, luas lahan, dan modal
  • RI rugi Rp36,4 miliar dari perdagangan trenggiling
  • EKSPLORASI
    Pangeran Charles kunjungi Jambi