Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Agribisnis
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Minggu, 13/05/2007
PT Bank Muamalat Indonesia
Inovatifciptakan Shar-E
oleh :
Para ahli pemasaran memercayai jargon innovate or die (inovasi atau mati) menjadi solusi terbaik untuk memenangkan persaingan. Kalau perusahaan ingin tetap eksis dan bertumbuh, inovasi harus menjadi bagian penting dari strategi manajemen.
Langkah inovasi itu pula yang ditempuh oleh PT Bank Muamalat Indonesia (Bank Muamalat) untuk memperluas pangsa pasar, meskipun dalam kondisi keterbatasan dana. Caranya, bank syariah pertama di Indonesia ini meluncurkan produk perbankan virtual bernama Shar-E.
Shar-E telah meraih penghargaan sebagai produk inovatif dari beberapa lembaga, seperti Majalah Swa, MARS, BPPT serta Kementerian Riset dan Teknologi. Bahkan April lalu, Museum Rekor Indonesia (MURI) memberikan tiga penghargaan untuk Bank Muamalat.
MURI memberi penghargaan untuk satu-satunya rekening bank instan dalam kemasan, pertumbuhan persentase nasabah produk bank tercepat di Indonesia, dan pertumbuhan jaringan real time online terbanyak.
Produk Shar-E dinilai inovatif, karena masyarakat bisa menjadi nasabah Bank Muamalat secara instan, cukup hanya dengan membeli paket Shar-E yang dikemas layaknya paket perdana simcard untuk telepon seluler.
Hanya dengan membeli starterpack Shar-E seharga Rp125.000, nasabah langsung mendapatkan paket Shar-E yang di dalamnya terdapat kartu ATM dengan saldo awal Rp100.000.
Cara penambahan nasabah melalui Shar-E ini unik. Bank Muamalat memberlakukan Shar-E sebagai produk, karena masyarakat yang ingin menjadi nasabah bank tersebut bisa dengan cara membelinya.
Tiga keunggulan
Produk ini tidak hanya bisa didapatkan di cabang Bank Muamalat, tapi juga ada di kantor pos maupun agen penjual. Menurut Direktur Utama Bank Muamalat A.Riawan Amin, Shar-E memiliki tiga keunggulan.
Pertama, mudah (easy). Karena membeli paket perdana Shar-E, sama artinya dengan membuka rekening tabungan.
Kedua, di mana saja (everywhere). Produk ini dapat dibeli di seluruh kantor pos, dapat menambah saldo melalui kantor pos dan dapat ditarik di mana saja melalui jaringan ATM.
Ketiga, luar biasa (extraordinary). Memperoleh bagi hasil yang dikelola secara syariah dan memperoleh fee bila menjual Shar-E kepada pihak ketiga.
Memperluas pangsa pasar merupakan salah satu cara untuk mendongkrak kinerja bank syariah. Sayangnya, Bank Muamalat memiliki kendala jaringan atau kantor cabang yang masih sedikit. Sementara, kalau ingin menambah kantor cabang, biayanya masih mahal.
Melihat situasi itu, Riawan Amin dan jajaran manajemennya berfikir keras untuk melahirkan produk yang mampu menjangkau nasabah yang daerahnya belum ada bank syariah, namun tanpa perlu membuka kantor cabang.
Dia juga tergelitik untuk mendukung fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang mengharamkan bunga bank pada 2004. Sebagai bank syariah yang lahir dari MUI,
Bank Muamalat ingin mendukung fatwa MUI tersebut.
"Sebagai bank syariah yang lahir dari MUI, Bank Muamalat ingin membantu MUI memerangi riba," cerita Riawan Amin mengenai kelahiran Shar-E.
Saat fatwa bunga bank itu haram sudah dikeluarkan oleh MUI, bank syariah masih belum hadir di pelosok Indonesia. Sementara kalau ingin menghadirkan bank syariah secara fisik, biayanya sangat mahal.
Karena itu, BMI menghadirkan produk bank virtual dengan cara mengeluarkan produk Shar-E di akhir 2004 dan efektif dipasarkan 2005. Setahun setelah produk itu diluncurkan, Shar-E mengalami pertumbuhan yang pesat
Nasabah Shar-E meroket 400% dari 32.669 pada 2005 menjadi 663.877 nasabah di 2006. Bahkan, nasabah Shar-E hingga posisi 23 April ini telah tumbuh menjadi 800.265 dengan jumlah dana Rp708,99 miliar.
Shar-E terbukti mampu meningkatkan jumlah nasabah Bank Muamalat secara signifikan. Produk Shar-E sedikit berbeda dengan tabungan umat yang juga dimiliki oleh Bank Muamalat.
Meski sama-sama berjenis tabungan, namun Shar-E tidak menggunakan buku tabungan dan hanya diberi kartu yang berfungsi pula sebagai kartu ATM (anjungan tunai mandiri).
Pemegang Shar-E dapat melakukan tarik tunai di seluruh ATM di Indonesia (ATM BCA/PRIMA dan ATM Bersama) serta dapat digunakan berbelanja di lebih dari 40.000 merchant debit BCA/PRIMA, bisa mengecek saldo melalui SMS, menambah saldo semudah isi pulsa dan dilayani phone banking 24 jam.
Bahkan kartu tersebut juga dapat dipergunakan di Malaysia, karena Bank Muamalat bekerja sama dengan MEPS (Malaysia Electronic Payment System), Maybank, Hong Leong Bank, Affin Bank dan Southern Bank.
Dalam rangka menjangkau nasabah lebih luas, Bank Muamalat menjual Shar-E beraliansi dengan PT Pos Indonesia yang memiliki jaringan luas hingga pelosok Tanah Air. Bank Muamalat menawarkan kemudahan membeli dan menyetor tunai di 1.600 kantor pos online bertanda Shar-E.
Berbagai fasilitas dan keunikan Shar-E tersebut membuat produk ini berbeda dari produk lain di perbankan. Kehadiran Shar-E juga memperkuat citra Bank Muamalat sebagai bank syariah.
Target pasar Shar-E adalah masyarakat di pelosok Tanah Air yang tak terjangkau oleh bank syariah. Sesuai namanya Shar-E yang berarti Syar'i (sesuai aturan Allah SWT), produk ini tentu saja diinvestasikan ke produk yang halal.
Inovasi telah membuat Bank Muamalat mampu menembus keterbatasan sumber daya yang dimilikinya. Lembaga konsultan pemasaran Mark-Plus sering menyebut sembilan elemen pemasaran yang dibangun baik akan mendukung strategi dari produk, merek, ataupun perusahaan agar memiliki keunggulan bersaing.
Kesembilan elemen pemasaran itu adalah merek, diferensiasi, positioning, segmentasi pasar, penargetan, bauran pemasaran, penjualan, pelayanan dan proses. Apakah Bank Muamalat telah menerapkan sembilan elemen pemasaran untuk menciptakan keunggulan di produk Shar-E, waktu yang akan menjawabnya. (suli.murwani@bisnis.co.id)
Suli H. Murwani
Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- BUDI DAYA
Produksi beras Indonesia terisolasi - BUDI DAYA
Mangga gedong gincu disertifikasi - Menhut: 63 Juta ha hutan kritis
- IFC investasi US$20 juta
guna dorong produksi kopi - RI produsen utama udang di Asia