Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Agribisnis


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Minggu, 20/07/2008

Kenali pengelolaan

oleh :

Angka delapan memiliki unsur magis dalam hal keberuntungan bagi sebagian orang. Bisa jadi karena hal itu pasangan berbondong-bondong memesan gedung resepsi agar disahkan menjadi suami istri pada 8 Agustus 2008 (8-8-2008) agar pernikahannya berkah.

Pasangan Teto dan Ninu yang mengikat janji pernikahan pada tanggal 8 bulan depan, tidak terlalu memusingkan hal itu. Ninu bilang secara kebetulan mereka mendapat kesempatan menikah pada hari tadi, bukan direncanakan.

Bagi Teto dan Ninu berjalan lancarnya prosesi akad nikah dan resepsi pernikahan merupakan hal yang lebih penting. Maka mereka banyak melakukan pengorbanan setahun belakangan, mengerem sejumlah keperluan yang tidak terlalu mendesak guna menabung.

Dalam perencanaan sebelumnya, Teto dan Ninu membagi dana kebutuhan pernikahannya menjadi empat bagian. Dua bagian dana ditanggung orang tua masing-masing, selebihnya dana mereka berdua yang pikul.

Mereka lantas membuka satu rekening yang dana setorannya dari kantong berdua. Teto dan Ninu bangga tidak hanya mengandalkan biaya pernikahan dari orang tua, tetapi sedikit demi sedikit gaji yang mereka dapat disimpan untuk memenuhi tabungan tadi.

"Teto sangat disiplin dalam urusan menabung," tutur Ninu.

Perencana keuangan dari biro Perencana Keuangan Safir Senduk dan Rekan, Ahmad Gozali salut akan kedisplinan dan kesadaran finansial yang dimiliki pasangan tadi. Namun, dia menyarankan bagi pasangan yang akan menikah sebaiknya tidak membuka rekening tabungan bersama.

Apalagi mencicil sebentuk fasilitas, misalnya, rumah sebelum terjadi pernikahan. Menurutnya, masih terbuka peluang yang cukup besar akan gagalnya suatu rencana pernikahan.

Apabila gagal, kegiatan pengumpulan uang bersama yang tadinya tidak bermasalah bisa berbuntut runyam. Lebih baik, pasangan yang akan menikah mengumpulkan uang dalam rekeningnya masing-masing untuk memenuhi suatu target.

Poin penting selanjutnya yang harus diperhatikan pasangan yang akan menikah adalah seberapa besar potensi pendapatan dan utang yang dimiliki masing-masing. Juga bagaimana seseorang mengenal kebiasaan pengelolaan uang pasangannya.

"Gunanya, ketika menikah tidak kaget lagi."

Ahmad menekankan pentingnya keterbukaan di antara pasangan. Hal-hal yang boleh jadi dianggap sepele penting untuk dibuka, misalnya, apakah salah satu punya utang kartu kredit yang membengkak.

Pasangan harus memiliki adaptasi yang baik terhadap pengelolaan uang masing-masing. Istri harus siap memulai kehidupan dari awal kendati fasilitas seadanya karena kondisi keuangan masih minim apabila dibandingkan dengan tinggal di rumah orang tua yang serbaada.

Poin penting lain yang harus dipersiapkan adalah seputar pengelolaan uang setelah menikah. Dalam hal ini sang istri duduk dalam posisi kunci.

Istrilah yang menentukan apakah sumber kauangan keluarga mau digabungkan atau tidak. Tentunya perlu kesepakatan baru dalam hal ini.

Menteri keuangan

Ibaratnya istri harus siap menjadi menteri keuangan suatu negara. Istri dituntut lebih bijak menghitung segala pengeluaran guna memfasilitasi hadirnya pola perencanaan keuangan keluarga yang sehat.

Setelah menikah pasangan harus mengubah pos-pos keuangan yang akan ditempatkan. Misalnya, dana yang dikelola dalam asuransi, mereka harus mempunyai asuransi yang memadai, dikembangkan menjadi asuransi pendidikan anak, liburan, juga dana pensiun.

"Dulu belum menikah, misalnya, lebih menekankan pada unit link yang lebih ditujukan ke investasi. Tapi setelah memiliki tanggungan istri dan anak, perlu dikalkulasi ulang semuanya."

Teto dan Ninu bisa dibilang tim yang kompak. Sejauh ini mereka sudah membahas detail perencanaan keuangan hingga jauh ke depan. Mereka akan mengencangkan ikat pinggang untuk mewujudkan target jangka pendek, kemudian naik bertahap mewujudkan target jangka panjang.

Intinya, gaji yang mereka kumpulkan akan dialokasikan dalam beberapa tabungan terpisah. Misalnya tabungan kurban, haji, dan untuk membeli rumah.

Lagi pula, siapa sih yang menginginkan rumah tangganya kandas dan menyisakan banyak persoalan lanjutan? Perencana Keuangan Panin, Tri Djoko Santoso mengatakan penting bagi pasangan untuk membuat perjanjian pra menikah.

Hal itu dinilai perlu jika mencermati potensi risiko yang terjadi apabila pernikahan gagal. Terlebih untuk pasangan yang nonmuslim.

Berbeda dengan pasangan muslim yang sudah cukup jelas aturannya tentang harta gono-gini, perceraian pasangan nonmuslim berpotensi menimbulkan bibit konflik terkait harta bersama.

"Saya sangat menyarankan pada klien saya, karena pada dasarnya perjanjian itu bertujuan baik."

Risiko yang dapat diminimalisasi cukup besar karena bercampurnya pengelolaan uang bersama dari dua kantong yang berbeda. Sebelum menikah pasangan sebaiknya bertemu notaris untuk membuat perjanjian pranikah.

Tapi semua itu dikembalikan lagi kepada kebutuhan dan pola pikir tiap pasangan. Senada dengan Ahmad, Tri juga menganjurkan pasangan untuk membuat skala prioritas dalam pengelolaan uang rumah tangga.

Pasalnya, yang membelanjakan uang bersama merupakan dua pribadi yang memiliki selera tersendiri. Komunikasi yang baik dan kekompakan dalam mengelola dana bersama merupakan kunci kebahagiaan rumah tangga. (redaksi@bisnis.co.id)

Noerma Komalasari
Kontributor Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • Realisasi subsidi benih baru capai 35%
  • Tim analisis risiko ambil alih soal impor daging
  • 'RI berpeluang isi pasar domba & kambing Arab Saudi'
  • BUDI DAYA
    Aceh genjot peternakan sapi