Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Agribisnis


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Halaman [ 1 2 Selanjutnya »| ] dari 2

Minggu, 20/07/2008

Menjual popularitas

oleh :

Namanya juga manusia, tugasnya ya berusaha, tidak terkecuali artis. Di luar mata pencarian utama sebagai aktor, artis, penghibur, banyak pesohor menunjukkan keberanian berbisnis.

Sebut saja Olga Lidya, artis yang mengawali karier hiburan sebagai model, kini aktif mengelola tiga macam bisnis. Tiga tahun lalu dia dan beberapa kawan di luar dunia hiburan sepakat menjajal kemampuan berwirausaha.

Percobaan pertama adalah membuka tempat nongkrong yang menyediakan fasilitas biliar bernama La Forca di Setia Budi Building, Jakarta Selatan. Tidak tanggung-tanggung dana investasi yang ditanamkan sekitar Rp3 miliar.

Usaha yang baru saja digeluti adalah kursus menyanyi Rumah Bintang di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Perempuan cantik ini banyak membantu sisi promosi. Dia tidak menampik pendapat bahwa dia banyak meraih kemudahan dalam hal promosi karena sisi keartisannya.

Akan tetapi, segala kemudahan itu dibarengi dengan kewaspadaan dan kehati-hatian menjaga layanan dan produk yang dijajakan. Masalahnya, sebagai artis tentunya Olga mendapat ekspos lebih dari orang kebanyakan.

Mengandalkan kesusksesan bisnis dari citra seseorang cukup sulit. Perlu kerja keras untuk membangunnya seperti kerja keras menjaga mutu layanan dan produk. "Kalau bisnis saya bagus maka kabarnya akan cepat tersebar, kalau bisnis saya jelek kabarnya kemungkinan lebih cepat lagi tersebarnya."

Serupa dengan Olga, Titi Kamal juga tertarik berbisnis. Perempuan berambut hitam legam ini awalnya memilih membuka usaha makanan Sunda bernama Saung Titi di Lampung.

Seiring dengan waktu, Titi mengganti produk jualannya menjadi Cwimie Malang setelah Saung Sunda berjalan tidak sesukses yang diharapkan. Perubahan haluan tidak sembarangan dilakukan, sebelumnya dia melakukan riset.

Hasil riset yang dilakukan menggambarkan orang Lampung lebih suka makanan yang pedas dan ada unsur mi di dalamnya. Makanya, Titi pun memutuskan mengubah bisnis ke Cwimie Malang.

Saat ini, bersama kakaknya, bintang dalam film Mendadak Dangdut ini sedang menjajaki bisnis production house (PH) berlabel Pop Corn Management. Jenis tayangan yang akan digarap PH nya a.l. program reality show. "Saya juga akan mengorbitkan satu band baru."

Penggiat dunia hiburan lain yang belakangan terjun ke dunia bisnis adalah Rahma Umayya. Mantan Finalis Video Jockey (VJ) MTV Indonesia 2003 ini menjual perhiasan dan aksesori etnik khas Tanah Air.

Dua tahun lalu, bersama Dewi Utari yang berprofesi sebagai fashion stylist, Rahma membuka bisnis yang mereka namai Tarimayya. Keduanya menjual produk di satu gerai di Alun-Alun Indonesia di Grand Indonesia.

Perhiasan dan aksesori yang dijual mulai dari kalung hingga ikat pinggang. Rahma bilang pembelinya beragam, dari masyarakat umum sampai sesama artis. Barang-barang jualannya dipatok dalam kisaran harga Rp85.000-Rp250.000, tergantung tingkat keunikan dan kesulitan membuatnya.

Keberhasilan dalam bisnis juga dijalani atlet angkat beban Ade Rai. Melihat kesuksesannya dalam bisnis, mengingatkan kita akan sosok Michael Jordan, mantan pemain basket NBA yang sangat mendunia.

Semenjak memutuskan untuk pensiun dari dunia basket, Michael Jordan sukses sebagai pengusaha beragam merek pakaian olahraga dengan merek namanya sendiri. Sebut saja Air Jordan sneaker, Michael Jordan Tennis Retro, dan masih banyak lagi.

Tampaknya, kesuksesan Michael Jordan juga akan dilakoni Ade Rai yang kini memiliki dua klub kebugaran yang diwaralabakan yaitu Klub Ade Rai dan Gold's Gym.

Bukan hanya itu, melainkan juga belum lama ini Ade Rai juga memiliki pusat pelatihan bagi tenaga trainer fitness center bersertifikasi berlabel Rai Institute, produk nutrisi serta suplemen Rai Nutrition bersama PT Nutrifood Indonesia, menulis buku kesehatan, hingga membuat majalah kebugaran Adiraga.

Hanya bermodal Rp30 juta, Ade Rai membuka pusat kebugaran sendiri pada 1998 di kawasan Senen. Kini ada sekitar 20 waralaba Klub Ade Rai dan 10 Gold's Gym.

Meski demikian bukan berarti usaha Ade Rai akan berhenti sampai di sini, pengembangan usaha akan terus dilakukan.

Mencintai bisnis

Tidak ada strategi pemasaran khusus yang diterapkan Ade Rai dalam menjalankan bisnis, latar belakangnya karena semua dipelajarinya secara otodidak.

"Mulai 1998 hingga 2005 sering jatuh bangun karena saya juga tidak terlalu terlibat dengan manajemennya. Sekarang sudah mulai ikut terlibat dan usaha mulai lancar," ujar pria berotot ini.

Beberapa hal yang menjadi prinsip usaha pria berotot ini lancar karena dia sangat mencintai bisnis ini. Selain itu, bisnis yang dibangun selama ini dilatarbelakangi kebutuhan banyak orang terkait dengan gaya hidup sehat.

Tidak heran hampir semua usaha bisnis yang dilakoninya sudah balik modal, bahkan sebagian sudah memberi margin keuntungan yang lumayan, membuat Ade Rai tidak lagi perlu mengais rezeki lewat kompetisi adu otot.

Jika Ade Rai berbisnis di bidang olahraga, mentalis Deddy Corbuzier juga menjalankan bisnis sesuai dengan bidang yang disukai.

Selain sukses berkiprah sebagai mentalis dan sering tampil di layar kaca, suami Karina ini juga sukses sebagai pebisnis yang urusannya tidak jauh dari dunia sulap.

Sejak empat tahun lalu Deddy menjalankan bisnis restoran di Malaysia, memiliki beberapa toko sulap, dan mendirikan sekolah sulap Pentagram.

"Memang kita kalau mau bangun bisnis harus berhubungan dengan bidang yang kita suka, kalau tidak maka yang ngejalanin juga gak semangat," ujar pria yang sehari-hari tampil dengan make-up serba hitam ini.

Mulai dari bisnis restoran yang dia dirikan sejak 2004, bermodalkan Rp2 miliar hasil tabungannya sebagai penghibur (entertainer) dikumpulkan untuk membangun Magical Theater Restaurant yang berlokasi di Subway Lagoon Malaysia.

General Manager Strategic Services Jakarta Consulting Group Himawan Wijanarko berpendapat selebritas memiliki banyak keunggulan dalam membuka usaha dibandingkan dengan mereka yang bukan selebritas.

Sisi positif yang didapat para selebritas adalah mereka populer. Popularitas merupakan potensi besar untuk personal branding. Paris Hilton, misalnya, digunakan namanya untuk produk parfum. "Dia tinggal order orang lain [membuat parfum] dengan memakai namanya," ujar Himawan.

Kelebihan para selebritas juga terletak pada jaringan (network) yang dimilikinya. Saat terkenal seorang selebritas memiliki jaringan yang cukup banyak yang bisa dimanfaatkannya untuk membangun bisnis. Selain itu, mereka juga relatif mudah mencari pinjaman karena reputasinya.


Halaman [ 1 2 Selanjutnya »| ] dari 2

Berita Lain

  • 'Hati-hati naikkan harga beli beras dan gabah'
  • Benahi irigasi, luas lahan, dan modal
  • RI rugi Rp36,4 miliar dari perdagangan trenggiling
  • EKSPLORASI
    Pangeran Charles kunjungi Jambi