WELLINGTON (Bloomberg): Minyak mentah turun tipis setelah melemah dipicu spekulasi permintaan terhadap energi dan bahan bakar berpeluang tertahan lambatnya pemulihan ekonomi global dari resesi terburuk sejak Perang Dunia II.
Satu laporan hari ini di AS, konsumen minyak terbesar dunia, berpotensi menunjukkan pabrikan di Teksas mengalami kontraksi 2 tahun pada bulan ini. Badai yang melalui Semenanjung Yucatan Meksiko berpeluang menguat menuju baratlaut, ungkap U.S. National Hurricane Center.
Minyak mentah untuk pengiriman Agustus berada di US$69,11 per barel atau turun 7 sen di perdagangan elektronik after-hours New York Mercantile Exchange pada pukul 7:15 di Singapura.
Harga kontrak komoditas itu tertekan US$1,07, atau 1,5%, menjadi US$69,16 pada 26 Juni setelah satu laporan menunjukkan tabungan di AS melonjak ke tertinggi 15 tahun pada Mei, mengindikasikan pemulihan yang lambat pada belanja rumah tangga. Kontrak Agustus melemah 1,2% pada pekan lalu, setelah menyentuh tertinggi 7 bulan di US$73,90 pada 11 Juni.
Kontrak minyak mentah di New York terangkat 55% tahun ini, karena menguatnya pasar ekuitas dunia dan melemahnya dolar AS mendorong investor untuk membeli komoditas sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan untuk meraup untung ketika permintaan pulih.
Indeks Standard & Poor’s 500 melemah dalam dua pekan terakhir.
Minyak mentah brent untuk pengiriman Agustus tertekan 5 sen menjadi US$68,87 per barel di bursa London ICE Futures Europe hari ini. Brent tertekan 1,2% pada 26 Juni.
Permintaan bensin AS, berdasarkan pengiriman dari kilang dan terminal, biasanya mencapai puncak pada Juli--Agustus.
Cadangan meningkat dalam 2 pekan terakhir sebesar 3,87 juta barel menjadi 208,9 juta barel pada pekan yang berakhir 19 Juni, kata data Departemen Energi AS. Total konsumsi bahan bakar turun 5,5% menjadi 17,9 juta barel per hari di periode yang sama, penurunan terdalam sejak Januari.(er)
Nikmati kemudahan mengakses koran Bisnis Indonesia dalam berbagai format hanya dengan mendaftar menjadi member, GRATIS !
Daftar member »