LONDON (Bloomberg): Komoditas, yang memimpin kenaikan harga tertinggi tahun ini, diprediksi gagal melanjutkan kenaikannya kembali dalam tiga bulan ke depan dipicu kelebihan pasokan dan aksi jual para spekulan.
Harga nikel kemungkinan berada di kisaran 29% lebih rendah pada kuartal ketiga daripada level saat ini, sedangkan harga minyak 16%, tembaga 14% dan bensin 10%, estimasi analis yang disurvey Bloomberg.
Para hedge fund dan spekulan memangkas posisi belinya pada harga tinggi yakni turun 23% dalam dua pekan yang berakhir 23 Juni, penurunan pertama sejak Maret yang tercatat dalam data indeks Commodity Futures Trading Commission AS. World Bank, bank dunia, mengatakan pada 22 Juni menyatakan resesi global akan semakin dalam dari perkiraan untuk tiga bulan ke depan.
"Komoditas biasanya hanya sedikit tergantung dari kondisinya sendiri. Selama pertumbuhan ekonomi tidak menentu, maka arah harga komoditas akan tidak menentu juga," kata Walter Hellwig, pengelola dana US$30 miliar pada Morgan Asset Management di Birmingham, Alabama.
Harga komoditas naik 14% pada kuartal ini, dipimpin harga nikel, minyak dan gula, menurut Reuters/Jefferies CRB Index, indeks harga 19 komoditas. Tahun ini harga minyak menanjak 55%, bandingkan dengan defisit anggaran, yang terpengaruh resesi global, kata Nouriel Roubini, profesor ekonomi pada New York University yang pernah memprediksi akan terjadi krisis finansial.
World Bank memprediksi ekonomi berkontraksi tahun ini menjadi 2,9%, lebih tinggi dari perkiraan semula yang sama menciut 1,7%, dipicu potensi penurunan penjualan.
Pertumbuhan persediaan komoditas kemungkinan tidak mampu menghentikan harga dari penurunan. Persediaan minyak di AS lebih tinggi 8,7% daripada posisi Januari, menurut data Departemen Energi. Ketika pasokan bertambah, harga naik 55% tahun ini menjadi US$69,16 per barel di New York Mercantile Exchange.
Harga minyak berpotensi turun menjadi rata-rata US$58 per barel pada kuartal ketiga ini, ketika bensin turun menjadi US$1,681 per galon, menurut perkiraan analis Bloomberg. Harga tembaga diprediksi turun menjadi US$4.354 per metrik ton di London Metal Exchange ketika harga nikel rata-rata US$11.250 per ton.
Nikmati kemudahan mengakses koran Bisnis Indonesia dalam berbagai format hanya dengan mendaftar menjadi member, GRATIS !
Daftar member »