MELBOURNE (Bloomberg): Minyak mentah tertekan penguatan dolar AS dan spekulasi stok bahan bakar negara itu akan naik karena resesi menekan permintaan di negara konsumen energi terbesar dunia itu.
Dolar AS menanjak terhadap euro, membatasi selera investor terhadap aset lindung nilai inflasi seperti komoditas. Sebanyak 18 dari 37 analis yang disurvei Bloomberg News mengatakan kontrak akan melemah hingga 10 Juli.
Minyak mentah untuk pengiriman Agustus terpangkas US$1,57 atau 2,4% menjadi US$65,16 per barel di New York Mercantile Exchange pada pukul 10:06 di Sydney.
Minyak turun 3,7% pada 2 Juli menjadi US$66,73. Perdagangan elektronik dari 3 Juli akan dihitung sebagai bagian dari sesi hari ini karena libur Independence Day AS.
Penguatan dolar AS menekan daya tarik bahan baku seperti minyak dan emas bagi investor. Dolar AS diperdagangkan pada posisi US$1,3956 per euro dari US$1,3980 pada pukul 8:32 di Tokyo. Dolar AS telah menguat sejak 2 Juli setelah data pembayaran gaji nonpertanian AS lebih buruk dari perkiraan.
Cadangan bensin AS naik 2,33 juta barel menjadi 211,2 juta pekan lalu, ungkap laporan Departemen Energi pada 1 Juli.
Cadangan bahan bakar distilasi, satu kategori yang mencakup solar dan heating oil, naik 2,9 juta barel menjadi 155 juta barel, tertinggi sejak 1987.
Permintaan rata-rata harian bahan selama 4 pekan yang berakhir 26 Juni turun 5,8% dibandingkan setahun sebelumnya, kata Departemen Energi AS. Permintaan bahan bakar distilasi pada periode tersebut turun 9,4% menjadi 3,4 juta barel per hari.
Bensin untuk pengiriman Agustus turun 3,4 sen atau 1,9% menjadi US$1,7570 per galon pada pukul 8:58 waktu Sydney di New York.
Minyak mentah brent untuk pengiriman Agustus tertekan 56 sen atau 0,9% menjadi US$65,05 per barel pada pukul 8:52 di bursa London’s ICE Futures Europe.(er)
Nikmati kemudahan mengakses koran Bisnis Indonesia dalam berbagai format hanya dengan mendaftar menjadi member, GRATIS !
Daftar member »