
NEW YORK (Bloomberg): Minyak mentah diperdagangkan di bawah level US$78 per barel di New York setelah kemarin melemah akibat penguatan dolar AS dan di tengah kekhawatiran terhadap level pemulihan di AS, negara konsumen energi terbesar di dunia.
Minyak kemarin terrpangkas untuk pertama kalinya dalam 4 hari karena saham AS meneruskan penurunan global di tengah kekhawatiran bahwa rally telah melampaui prospek pertumbuhan ekonomi. Harga juga tertekan karena dolar AS menguat terhadap euro, menekan daya tarik komoditas sebagai investasi alternatif.
Minyak mentah untuk pengiriman Desember diperdagangkan di level US$77,78 per barel, naik 32 sen dalam perdagangan elektronik di New York Mercantile Exchange pukul 10:34 a.m. waktu Sydney. Kemarin harga kontrak minyak melemah US$2,12, atau 2,7%, menjadi US$77,46, penurunan terdalam sejak 12 November.
Kontrak minyak telah menanjak 74% tahun ini dan menuju kenaikan 1,9% untuk pekan ini.
Indeks Standard & Poor’s 500 melemah 1,3% ke posisi 1.094,90 di New York kemarin. Indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,9% menjadi 10.332,44. Dolar AS diperdagangkan pada posisi US$1,4914 terhadap euro pada pukul 10:39 a.m. waktu Sydney, dari US$1,4925 kemarin.
Menteri Perminyakan Nigeria Rilwanu Lukman mengatakan dirinya meragukan Organization of Petroleum Exporting Countries akan memangkas pasok dengan harga di level sekarang. Para negara anggota OPEC memilih untuk menaikakn kuota produksi, katanya kepada pers di London kemarin. OPEC akan melakukan pertemuan di Anggola pada Desember untuk membahas produksi.
Minyak mentah brent untuk pengiriman Januari turun US$1,83 atau 2,3% mengakhiri sesi di level US$77,64 per barel di ICE Futures Europe yang berbasis di London, kemarin.(er)
Nikmati kemudahan mengakses koran Bisnis Indonesia dalam berbagai format hanya dengan mendaftar menjadi member, GRATIS !
Daftar member »