Harga gula kembali naik

Kamis, 03/12/2009 16:36:02 WIBOleh: Bambang Sutejo
MALANG (bisnis.com): Harga gula putih lokal berbahan baku tebu di tingkat eceran kembali naik sejak akhir pekan lalu. Jika sebelumnya rata-rata berkisar Rp8.600-Rp8.700 per kg, sejak Minggu tembus Rp9.100 per kg.

Menurut satu sumber bisnis.com, kembali menguatnya harga gula tersebut dipicu oleh mulai menipisnya stok gula di pasaran menyusul mulai berhentinya kegiatan masa giling gula belum lama ini.

"Biasa kan kalau akhir giling harga sedikit menghangat karena stok dipastikan mulai berkurang. Apalagi ada laporan yang menyatakan produksi tahun ini tidak mencapai target sasaran 2,9 juta ton. Secara kebetulan akhir masa giling sejumlah pabrik gula bertepatan dengan Iduladha. Tapi [kenaikan harga] masih wajar kok," kata satu sumber pedagang kepada bisnis.com tadi siang.

Adig Suwandi, Sekretaris PTPN) XI, mengimbau Pemerintah terus memantau stok gula secara nasional. Karena, selain produksi gula hasil giling selama 2009 tidak sebesar rencana semula 2,9 ton atau bahkan di bawah 2,7 juta ton, juga dampak aktivitas sejumlah pabrik makanan/minuman yang melakukan substitusi bahan baku dari gula rafinasi ke gula lokal.

"Tindakan tersebut dilakukan menyusul ketidaklancaran impor menyusul tingginya harga gula dunia yang saat ini masih di atas US$600 per ton [FOB]."

Dia menyebutkan faktor utama rendahnya produksi gula tahun ini dipicu oleh menyusutnya areal pengusahaan tebu yang mencapai sekitar 20.000 ha, khususnya yang berasal dari tebu rakyat merupakan faktor dominan.

"Para petani kurang termotivasi untuk melakukan ekspansi areal, bahkan tanaman tebu yang sudah ada pun dibongkar untuk diganti komoditas lain yang lebih menguntungkan," katanya dalam siaran pers yang diterima bisnis.com.

Adig mengatakan dalam beberapa kali tender selama giling 2008, harga riil seringkali lebih rendah dibandingkan harga pokok penyanggaan (floor price) yang ditetapkan pemerintah Rp5.000 per kg.  "Hal inilah yang menyebabkan petani tebu mengkoversi ke tanaman lain yang dinilai lebih menguntungkan."

Secara nasional, lanjut dia, areal pengusahaan tebu diperkirakan turun seluas 20.000 ha. Khusus untuk PTPN XI, penurunan areal tebu rakyat mencapai lebih dari 4.000 ha. Agroklimat, kata dia, juga turut menentukan keberhasilan produksi meskipun dengan agroekoteknogi tepat guna imbas yang kurang menguntungkan dapat direduksi. (tw)
Nikmati kemudahan mengakses koran Bisnis Indonesia dalam berbagai format hanya dengan mendaftar menjadi member, GRATIS !
Daftar member »
 

Komentar

Hak Cipta © 2007 - 2009 - PT Jurnalindo Aksara Grafika