
SYDNEY (Bloomberg): Minyak mentah turun tipis di New York setelah melemah di tengah penguatan dolar AS, yang menekan permintaan terhadap komoditas sebagai alternatif investasi.
Minyak tertekan 1,2% kemarin setelah mata uang AS itu mengalami rebound. Sejumlah kontrak menguat sebelumnya karena kelompok militan utama Nigeria mengklaim serangan pertamanya dalam 5 bulan terhadap infrastruktur minyak di negara itu, dan Irak menutup jalur pipa ekspornya ke Turki pascasatu ledakan. Pasukan Irak mundur dari wilayah sengketa sumur minyak Irak pada 19 Desember, kata pejabat Irak.
Minyak mentah untuk pengiriman Februari diperdagangkan pada level US$73,67, turun 5 sen di perdagangan elektronik New York Mercantile Exchange pada pukul 8:48 a.m. waktu Singapura. Kontrak Januari yang jatuh tempo pada penutupan perdagangan saham kemarin, tersandung 89 sen menjadi US$72,47 per barel. Harga telah menguat sekitar 65% tahun ini.
Mata uang dolar AS berpindah tangan di level US$1,4275 per euro di awal perdagangan setelah terapresiasi 0,4% kemarin. Dolar AS berpeluang mendapat gain lebih lanjut dipicu spekulasi Federal Reserve tengah bersiap untuk menarik stimulus yang ditawarkannya.
Di Irak, jalur pipa yang memasok terminal ekspor minyak Ceyhan disabotase sekitar pukul 8:30 p.m. waktu setempat pada 19 Desember, kata Asim Jihad, juru bicara Menteri Perminyakan, pada akhir pekan lalu.
Pasukan Iran meninggalkan sumur minyak al-Fakah pada 19 Desember malam, kata Deputi Menteri Perminyakan Irak Abdul Kareem al-Luaibi kepada pers di Baghdad pada akhir pekan lalu.
Minyak mentah brent untujk penutupan Februari tertekan 76 sen atau 1% mengakhir sesi di US$72,99 per barel di ICE Futures Europe yang berbasis di London kemarin.(er)
Nikmati kemudahan mengakses koran Bisnis Indonesia dalam berbagai format hanya dengan mendaftar menjadi member, GRATIS !
Daftar member »