JAKARTA (Bisnis.com): Harga sejumlah komoditas pangan berpotensi naik di pasar global seiring terbatasnya produksi dan cuaca buruk yang merusak hasil panen sejumlah komoditas di antaranya beras, jagung, kedelai, dan gandum.
Goldman Sachs Group Inc menyatakan permintaan komoditas terus bertumbuh sehingga menyebabkan berkurangnya persediaan, sehingga akan mengangkat harga sejumlah komoditas dasar.
Cuaca buruk disejumlah negara produsen komoditas juga turut memperburuk pasokan sehingga turut menyumbang kenaikan harga seperti di Indonesia.
Asosiasi pangan Perserikatan Bangsa-Bangsa (Food and Agriculture Organization/FAO) menyatakan musim kering di aliran Sungai Mekong di Asia akan memukul produksi beras.
Kawasan itu merupakan sentra bahan pangan utama untuk setengah dari populasi dunia, berpotensi lebih kecil dari estimasi pada tahun ini setelah musim kering di regional Sungai Mekong yang merusak panenan.
FAO menyatakan produksi beras akan mencapai 704,4 juta ton tahun ini atau 470 juta ton dalam bentuk kering giling. FAO sebelumnya pada April memprediksi produksi beras mencapai rekor yakni 710 juta ton.Permintaan global diproyeksi mencapai 461 juta ton berbentuk kering giling atau naik dari perkiraan sebelumnya 454 juta ton.
Musim kering menyebabkan berkurangnya debit air di sungai Mekong hingga ke level terendah 30 tahun di perbatasan Thailand dan Laos, menurut pernyataan pemerintah Thailand seperti dikutip Bloomberg.
Menurut situs Mekong River Commission, sungai ini juga mengalir ke China, Myanmar, Kamboja dan Vietnam dan beberapa area yang dijadikan irigasi tanaman padi yang dikonsumsi 300 juta orang. (fh)